Translate

Tampilkan postingan dengan label santiago spanyol. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label santiago spanyol. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Oktober 14, 2023

Camino de Santiago - Portuguese Way (The End)

Menikmati lagi kehangatan Santiago de Compostela

By: Benediktus Beben

Santiago De Compostela 9 sd 11 Oktober 2022

Kami sangat senang sekali bisa kembali ke Santiago de Compostela yang kami cintai. Ini kali ke 2 kami tiba di sini setelah camino pertama di tahun 2019. 

Puji Tuhan, kami bisa melewati masa pandemi dengan baik, diberi kesehatan yang baik dan diberi kesempatan melihat kembali katedral Santiago de Compostela dengan segala keindahan dan historis nya yang sangat panjang. 

Kemarin tgl 9 Oktober 2022, kami tiba di kota ini menjelang sore hari setelah melalui perjalanan dari kota Padron. Setelah tiba di halaman katedral tempat berkumpulnya para peziarah dengan segala ekspresinya, rasanya kami terhanyut dalam kebahagiaan bersama mereka yang telah berhasil menyelesaikan perjalanan selama berhari -hari bahkan berminggu - minggu hingga sampai di tittik ini. Seperti coretan tangan dari seorang peziarah: 'Leave your Worries Here'.. semua tertumpah di sini.

Leave your worries here

Campur aduk rasanya perasaan kami ketika sampai di sini. Puji Tuhan, selama perjalanan, kami diberi kesehatan dan  cuaca cerah sehigga memperlancar perjalanan kami. Semua suka dan duka kami tumpahkan dalam rasa syukur di halaman katedral yang megah ini. 

Setelah menikmati suasana di depan katedral ini, kami berjalan ke luar area untuk mencari makan malam. Perut rasanya sudah berontak minta diisi nih.. 

Sepiring Paela yg gurih sedap

Selesai santap sore, kami berjalan lagi untuk mencari penginapan yang sudah kami booking sebelumnya. Oiya penginapan selama perjalanan camino biasanya kami cari di aplikasi  Booking.com atau RBnB. 

Penginapan kita ada di area ini

Penginapannya ada 3 macam seperti yang sudah diulas sebelumnya. Ada Alberque, Pension dan Apartemen. Kalau kita rombongan ber 4 atau lebih, Mungkin lebih enak menginap di apartemen yang bisa dibooking di aplikasi RBnB,  jadi bisa kumpul 1 rumah dengan fasilitas lengkap. Tapi bisa juga kita booking Alberque atau Pension untuk merasakan sensasi yang berbeda. Pokoknya tergantung selera kita masing - masing.

Nah, kami sudah booking apartemen di Santiago via RBnB buat 2 malam karena hari ke 3 kqmi berencana mau melanjutkan perjalanan ke Finistera dan menginap di sana. Tetapi ternyata kami batal ke Finistera,  sehingga harus cari lagi penginapan lain buat hari ke 3 karena apartemen yang kami inapi ini sudah di booking orang lain. Yo wislah nanti cari lagi..

Di penginapan

Dan ternyata apartemen yang kami booking ini lumayan jauh lokasinya.. sehingga kami jalan dengan agak kecapean menyusuri bangunan - bangunan kuno di Santiago dan keluar dari Herritage nya. 

O iya, sebagai info, Katedral Santiago de Compostela itu berada di komplek Herritage dengan bangunan-bangunan kuno di sekitarnya. Ada toko-toko, penginapan, taman yang asri dsb. 

Ketemu lagi dengan sesama pilgrim

Kalau kita beruntung mendapatkan tempat penginapan di Herritage ini, pastinya lebih gampang dan dekat ke katedral. Tapi kalau kurang beruntung ya seperti kami sekarang ini, penginapan kami agak jauh dari Katedral karena berada di luar herritage.


Ketika kami tiba di depan pintu apartemen, seorang Bapak tua memeberikan kunci apartemennya dan kamipun bisa langsung beres-beres dan istirahat dengan lelap malam ini  di kamar kami yang bersih dan nyaman. 

Pilgrim dari Malaysia

Keesokan harinya tanggal 10 Oktober 22, Kami berjalan dari apartemen menuju ke Katedral Santiago untuk mengikuti misa yang biasanya dimulai pukul 12 siang. Kami niat banget bawa bendera merah putih dan celana batik yang yang sudah disiapkan Bu Milda dari rumah. Pingin foto keren dong kita dengan sedikit sentuhan lokal wkwk.. 

Foto dulu sebelum misa

Pintu masuk katedral sudah antri dengan para peziarah, dan kamipun ikut antrian walaupun ada sedikit hujan rintik - rintik di hari ini. 

Botafumeiro/wiruk 

Waktu camino tahun 2019, Katedral Santiago lagi dalam renovasi sehingga banyak tiang-tiang penyangga yang mengganggu pemandangan. Jadi sekarang, kami sangat senang sekali ketika memasuki katedral ini karena renovasi sudah selesai dan Katedral tampak sangat menakjubkan. 


Dan yang paling istimewa, kami bisa menyaksikan ayunan dupa terbesar yang disebut Botafumeiro atau wiruk yang ada di sini ketika misa berlangsung. 

melihat para petugas pengayun wiruk latihan

Amazing banget melihat wiruk lagi diayunkan di depan altar oleh 8 orang petugas untuk memberkati umat yang hadir dalam misa. Menambah suasana syahdu, penuh damai dan sukacita. Kami sampai puas dan takjub menyaksikan ayunan wiruk ini dari mulai petugas latihan sebelum misa sampai diayunkan saat misa.

Para petugas sedang latihan

Altar Katedral sangat indah bernuansa keemasan dengan ornamen malaikat Tuhan dan simbol - simbol suci lainnya. Di Belakang Altar tampak patung Santiago atau St. Yakobus. Kita juga bisa ziarah ke makam Santo Yakobus yang terletak tepat di belakang altar katedral. Tentu saja kita harus antri dengan para peziarah lain untuk sampai ke sini.

Mau ziarah ke makam St yakobus

Misa berlangsung sangat khidmat dan syahdu, diiringi paduan suara yang sangat indah. Ayunan botafumeiro yang begitu menakjubkan menambah indahnya suasana misa hari ini. Dari awal sampai akhir misa, tak hentinya kami bersukur atas anugerah dan berkat Tuhan bisa sampai ke tempat ini untuk ke 2 kalinya.

Selesai misa, kami masih eksplore di dalam katedral ini, melihat keindahan interior katedral dan ada beberapa kapel di dalam katedral ini. Kami juga antri untuk  ziarah ke makam Santo Yakobus yang ada di belakang altar. 

Lalu kami ke luar katedral dan menikmati keindahan Katedral ini yang sudah berumur ratusan tahun dan masih berdiri dengan megahnya melewati segala cuaca dan perubahan zaman. 


Di komplek katedral ini, ada bangunan bersejarah lainnya yaitu Hotel dan universitas yang katanya merupakan salah satu universitas tertua di benua Eropa.


Di Halamn gereja, kami bertemu dengan sepasang suami istri asal Perancis yang tiba-tiba menghampiri kami dan menyapa Apa kabar.. Ternyata Ibu ini pernah tinggal di Indonesia dan sangat senang ketemu kami...wah kebetulan sekali. 

Kami juga bertemu teman kami Dena dan 2 orang temannya yang menyelesaikan camino dengan rute yang berbeda dengan kami. Heran ya bisa ketemu di sini padahal kita tidak janjian..

Senangnya ketemu teman camino  setanah air

So, hari ini kami rayakan dengan makan sea food di sebuah cafe yang ada pasar tradisional Mercado de Abastos, sambil bercerita tentang perjalanan camino kami masing-masing. Seneng banget bisa ketemu sama para camino dari tanah air.. 

Makan di Mercado de Abastos

Hari ini kami puas - puasin dah menikmati suasana romantis di Santiago dengan jalan sepanjang lorong - lorong bangunan herritage nya. 


Alunan musik khas galicia dari para pengamen jalanan yang ada di sepanjang jalan ini, seniman potret dan yang lainnya menambah indahnya suasana ziarah kami. 

Kami masih terhanyut oleh suasana di sini, menikmati segala suasana yang ada di sekitar kami. Menikmati sepotong ice cream yang enak, dan keliling kota Sampai malam hari tiba, barulah kami pulang ke apartemen kami yang cukup jauh itu..

Keesokan harinya, kami keluar dari apartemen dan menuju katedral sambil pindah ke apartemen baru. Tadi malam kami sudah booking penginapan untuk malam terakhir kami di Santiago. 

mencari titik lokasi penginapan

Beruntung sekali, setelah dicari - cari ternyata apartemennya terletak di pintu keluar herritage dan di sekitarnya banyak sekali cafe yang menggugah selera buat nongkrong di sana... wah menarik sekali. 


Tempatnya juga bersih dan rapih juga sangat nyaman. Dari apartemen baru ini, kami balik lagi ke Katedral dan mau mengurus sertifikat camino. 

Sertifikat camino kami

Oiya, kita bisa mendapatkan sertifikat ziarah camino di kantor camino yang terletak di sisi lain katedral di antara pertokoan yang menjual segala macam souvenir. Kita harus ambil nomer antrian dan membawa passpor camino kita sebagai syarat untuk mendapatkan sertifikat camino. 

Seneng banget ketemu dia lagi wkwk

Nanti sama petugas di dalam, paspor kita akan dilihat layak ga kita mendapatkan sertifikat karena syaratnya harus jalan kaki min 100 km atau min 110 km  untuk para peziarah dengan sepeda. Kami sudah menyelesaikan jaran 118 km jalan kaki dari Valenca dan sah untuk dapat sertifikat.

Jadi, hari ini kami habiskan waktu untuk mengurus serifikat dan selebihnya santai se santai-santainya menikmati keindahan Santiago De Compostela dan sekitarnya. Ada patung dua orang nenek yang terletak di sebuah taman kota. Patung ini sangat legendaris dengan ceritanya. Banyak orang berfoto di sini, termasuk kami ga mau ketinggalan..wkwk..

Patung yang legend di sebuah taman

Kita puas - puasin berfoto sini. Sore itu, sinar matahari senja sedang  memancarkan sinar lembayungnya  tepat di atas katedral sehingga kita mendapatkan pemandangan spektakuler dengan nuansa yang berbeda. 


Kita juga mengunjungi gereja lain yang ada di sini, menikmati lorong-lorong kota tua dengan toko - toko souvenir nya yang khas dan tentu saja nongkrong di cafe menikmati sedapnya hidangan khas galicia.. tentu sja segelas Sangria dan beer terenak galicia tak kami lewatkan.. 

makan lagii..

Saya lihat Bli Putu sudah nongkrong lagi di Cafe yang jual kebab, katanya enak banget.. jadi pingin icip juga wkwkwk..

Pokonya senang banget bisa menikmati semua pengalaman camino bersama istri dan sahabat terbaik kami... Thanks God atas segala berkatMu.

Sekian dulu cerita camino kami ya.  Jangan lupa ikuti jejak perjalanan kami di  JEJAK BEN

Terima kasih atas atensinya dan jika berkenan tolong like, share, dan komen channel nya.


Sampai Jumpa

Tuhan berkati


Salam hangat dari kami, 

Beben

Lian

Valentino

Milda

Putu Suasta 



Selasa, Maret 24, 2020

CAMINO SANTIAGO DE COMPOSTELA

Pasukan Keong sampai Ke Ujung Dunia

By: Benediktus Beben


Hari ini kami sengaja bangun pagi karena hari ini merupakan hari terakhir kami di kota Santiago De Compostela. Jadi harus dinikmati bener -bener nih..


Kami ber 3 (karena Bapak dan Ibu Valen masih terlelap kecapean wkwk) ingin mengunjungi pasar tradisional yang ada di kota Santiago De Compostela.


Nama pasar nya "Mercado de Abastos" yang sudah beroperasi sejak tahun 1873 dan  beroperasi mulai jam 7.00 pagi sampai 15.00.


Itulah alasannya kenapa pagi-pagi kami sudah jalan kaki ke pasar ini, kami ingin melihat aktifitas awal para pedagang dan suasana pasar tradisional ini.


Selain itu supaya siang harinya, kami masih punya waktu untuk mengikuti misa dengan para peziarah di salah satu Kapel yang ada di sekitar Katedral.


Jam 7.30 pagi, kami ber 3 sudah berjalan menyusuri lorong - lorong yang masih lengang. Jalanan masih tampak sepi hanya beberapa pejalan kaki saja yang berpapasan dalam perjalanan.


Lampu-lampu penerangan jalan masih menyala dan menandakan hari masih remang-remang walaupun sudah pagi hari.


Berjalan sekitar 20 menit saja dari penginapan, sampailah kami di gerbang pasar yang terlihat kuno.


Ketika kami masuk ke area pasar, sudah mulai terlihat aktifitas para pedagang yang sedang mengangkut barang membereskan dagangannya.


Para pedagang sayuran dan buah-buahan berada di sepanjang jalan dan ada pasar khusus ikan dan daging di lokasi tertutup.


Hasil laut yang segar seperti aneka ikan, udang, kerang dan Gurita yang besar-besar, banyak dijual  di sini.


Juga dijual berbagai macam daging dan olahannya, daging sapi, babi dan unggas , sosis, bacon dan semacamnya yang tertata rapih di balik kaca.


Karena pasarnya bersih dan tidak berbau amis, kami merasa nyaman keliling di pasar ini sambil melihat-lihat dagangan yang dijual di sana.

 

Kami berhenti di depan sebuah lapak yang menjual buah dan minuman dengan penataan yang menarik.. dan pandangan mata tertuju pada sebuah boneka angsa yang berwarna hijau yang jadi pajangan. Saya pikir itu boneka buatan ternyata sebuah labu yang bentuknya unik..

Labu yang unik
Saya tertarik ke salah satu lapak di pinggir jalan yang menjual aneka minuman dalam botol yang tampaknya enak buat diminum di pagi yang dingin ini..

. 

Ternyata minuman ini mengandung alkohol dengan kadar yang berbeda-beda. Saya membeli minuman yang berasa kopi dengan kadar alkohol paling rendah dan rasanya hmm.. enak dan menghangatkan tubuh. Boleh juga nih beli beberapa botol buat dibawa pulang haha..

Minumannya enakkk..
Setelah puas ngubek pasar, kami berjalan pulang dan langsung menuju ke arah Katedral untuk mengikuti misa.

Jam 10 pagi, di salah satu kapel di sekitar itu ada jadwal misa berbahasa Inggris untuk para peziarah yang mau mengikuti misa. 

Jadilah kita ber 3 ikut misa di sana dan saya sedikit berbangga ketika ditunjuk oleh petugas di sana untuk menjadi kolektan bersama dengan seorang wanita  peziarah.


Misa berlangsung sangat khidmat dipimpin oleh seorang Pastor yang sudah sepuh dan dihadiri  banyak umat. Dalam khotbah nya Pastor mengucapkan selamat kepada para peziarah yang sudah sampai di Santiago De Compostela dan memeberikan berkat pengutusan semoga kita bisa menjadi teladan bagi banyak orang..


Selesai misa, kami bergabung kembali dengan 2 teman kami untuk menghabiskan waktu yang tersisa menikmati Santiago  De Compostela dengan berkeliling di seputaran Katedral, mengunjungi lagi toko souvenir dan tidak lupa foto-foto di setiap sudut kota.


Pukul 11.30 kami berjalan ke arah terminal bis karena hari ini kami mau melanjutkan perjalanan ke Finisterre atau Fisterra yang katanya, tempat ini adalah ujungnya dunia.. Wow sejauh ini ya kami berjalan.. Amazing. 

Perjalanan ke Finisterre yang berjarak 87 Km dari Santiago De Compostela, bisa ditempuh dengan menyewa mobil atau naik bis umum.


Kami memutuskan untuk naik bis saja. dengan jadwal keberangkatan bis pada pukul 12.00 siang dan akan sampai di Finisterra sekitar pukul 14.30.


Oiya.. mau sedikit cerita, sebenarnya perjalanan ziarah camino kami berakhir di Santiago De compostela tetapi dari beberapa rekomendasi yang saya dapat, kita bisa melengkapi camino sampai ke Finisterre yang katanya indah sekali jadi jangan sampai terlewatkan untuk mampir ke sana barang sekejap.. 

Makanya kami ber 5 sepakat untuk melanjutkan hari terakhir kami ke Finistera. Tadinya kami mempertimbangkan untuk menginap di Finistera semalam saja.


Ada beberapa hotel di Finisterre yang jadi rekomendasi diantaranya: Ancora Hotel, Playa Langosteira Hotel, Insula Finisterrae Hotel, atau O Semaforo Hotel, tetapi karena terbentur jadwal kereta keesokan harinya karena kita harus pulang, maka kami putuskan kita hanya PP saja ke Finistere.


Jadi malam harinya, kami memutuskan untuk pulang ke Santiago De Compostela dan menginap semalam lagi di kota ini lalu pulang ke Madrid dan Barcelona keesokan harinya.


Sayang sekali kita tidak bisa menikmati Sunrise di ujung dunia nih..Tapi tidak jadi masalah, sekejap saja di Finisterre rasanya sudah sangat luar biasa..


Mengapa Finistere disebut ujung dunia? saya juga penasaran dengan pertanyaan ini sehingga saya mencari tahu alasannya.


Dari hasil pencarian, diperoleh info seperti ini.. Konon katanya, pada zaman dahulu kala, orang-orang percaya bahwa bumi itu datar dan matahari terbit di timur kemudian terbenam di barat.


Decimus Junius Brutus, seorang Jendral Romawi yang menaklukan Galicia, melihat matahari terbenam dengan sangat indah di Tanjung Finisterre. Di saat itu pula ia percaya bahwa kota tersebut adalah tempat dimana daratan berakhir sehingga dianggap sebagai ujung dunia.


Dalam bahasa latin, Finisterre berarti ‘akhir daratan’. Tanjung Finisterre disebut-sebut sebagai ujung barat dari semenanjung Iberia. Namun pendapat tersebut ternyata salah, karena ujung barat benua Eropa adalah Cabo da Roca di Portugal.


Pukul 12.30 bis yang kami tumpangi berjalan dengan kecepatan yang stabil. Tempat duduk di dalam bis nya enak sehingga kami bisa istirahat dengan nyaman sambil menikmati  pemandangan khas Galicia yang memanjakan mata dan pikiran.


Kami sangat menikmati perjalanan menuju 'ujung dunia' ini.. wow terkesan sangat jauh sekali ya..wkwkwkwk

Pukul 14.30 bis berhenti di pinggir pantai yang tenang, mungkin ini terminal perhentian bis nya pikir saya, tapi kenapa di sekitar sini  tidak tampak bis lain ya.. ya sudahlah mungkin pada parkir di tempat lain hahaha..

Mata kami langsung jelalatan melihat pemandangan pantai yang khas dengan banyak perahu tertambat di bibir pantai. 

Burung-burung camar terbang sambil bersahut-sahutan di sore yang  cerah ini dan beberapa wisatawan tampak sedang berjemur dan bercengkrama di pinggir pantai.


Karena perut keroncongan minta diisi, kamipun memutuskan untuk masuk dulu ke salah satu restoran yang ada di sini untuk makan siang.


Restorannya berada tepat di pinggir pantai sehingga kami bisa makan sambil menikmati keindahan sore ini, memandang pantai yang elok.


Ketika duduk di meja makan sambil memandang jauh ke arah pantai. tiba-tiba terdengar lagu Happy birthday mengalun dari belakang...


Alamak.. ternyata hari ini hari ulang tahun saya.. OMG istri dan teman-teman tercinta memberikan surprise di hari yang istimewa buat saya.. sebuah kue dengan lilin menyala menambah kemeriahan sore ini..


Terima kasih Tuhan, istriku dan sahabatku.. sangat berarti bisa merayakan hari ulang tahun di ujung dunia..Make a wish semoga kita diberi kesehatan dan bersyukur bisa menyelesaikan Camino kami.


Kami merayakannya dengan makan besar, memesan beberapa menu yang enak dan tidak lupa memesan 1 makanan laut sejenis kerang yang sangat langka. Bentuk nya sedikit mengerikan seperti kaki monster sehingga membuat beberapa orang tidak berani mencobanya.


Kerang ini mempunyai cangkang yang keras berwarna hitam dengan warna putih dan abu di ujungnya. Dikenal dengan nama Percebes atau Goose Barnacle.


sepiring Percebes

Seafood terkenal khas Spanyol ini dijual relatif  mahal harganya karena makhluk ini hidup di lautan dalam dan nelayan yang mengambilnya berhadapan dengan resiko yang tinggi dan bisa berujung kematian. Nelayan pemanen percebes dinobatkan sebagai salah satu pekerjaan paling berbahaya di dunia.


Sepesies laut ini menempel pada karang pantai dan pertumbuhan mahluk ini tergantung pada pergerakan air laut. Makin berada di dasar batu, maka dagingnya akan semakin tebal. Karena Percebes hidup di bebatuan pantai yang banyak ombak, maka para nelayan harus cepat mencabut percebes yang  menempel dengan alat seperti linggis sebelum ombak besar menghantam tubuh mereka. 

Saat ini Percebes diternakkan secara komersial di pantai utara Spanyol di Galacia, Bahkan sebagian hasilnya sudah diimpor ke Maroko dan Kanada. Supaya tidak penasaran, kami memesan 1 porsi percebes dan menikmati rasanya yang kenyal gurih.. Rasa dan sensasi yang dikandungnya terasa sensasional..



Untuk menikmati Percebes, umumnya orang Spanyol mengolah dengan cara yang sederhana. Percebes direbus dalam air mendidih dan hanya dibubuhi garam dan setelah lunak barulah diangkat. 

Untuk membuka cangkangnya,  bagian atas ditekan dan diputar sehingga daging berwarna cokelat didalamnya bisa dinikmati dengan cara diseruput seperti makan keong siput. Bentuknya yang kecil menjadikan Percebes mudah untuk dikonsumsi. Pak Valen punya video tutorialnya nih bagaimana cara menikmati percebes hahaha..

Setelah selesai pesta siang ini, target selanjutnya adalah sebuah mercusuar yang ada di Finisterre yang telah saya lihat foto-fotonya ketika mencari informasi tentang tempat ini. Sebenarnya mata sudah jelalatan dari tadi ketika menginjakan kaki di pantai Finisterre.. dimanakan Mercusuar itu berada?

Mercusuar yang saya cari-cari
Tak disangka ketika kami bertanya ke pemilik Restauran, tempat itu masih jauh di atas bukit. Kami harus berjalan beberapa kilometer lagi untuk sampai di sana.


Alamak, ternyata masih perlu perjuangan ya.. tadi kita terlalu santai saat makan siang dan saat ini waktu sudah menunjukan pukul 16.30 sementara bis terakhir ke Santiago adalah pukul 19.00.


Kami sempat bimbang untuk jalan kaki lagi mendaki bukit, tapi terlanjur sudah sampai di sini kenapa harus ragu?

Ayoo Bro and Sis semangat...kita jalan kaki lagi 'beberapa langkah' untuk melengkapi perjalanan Camino kita. Kita  masih punya waktu 3,5 jam untuk sampai di ujung dunia dan pulang lagi ke terminal bis. Sebelum melangkahkan kaki lebih jauh, kami foto dulu di sebuah monumen yang ada di pinggir pantai dengan 'Sang Saka Merah Putih'..


Oiya.. saya niat banget untuk foto dengan bendera 'Sang Saka Merah Putih' dalam perjalanan Camino ini sehingga sengaja saya menyelipkannya dalam ransel camino saya.


Baru keinget bendera ini ketika mau berangkat ke Finisterre dan Puji Tuhan kita bisa mengibarkan Bendera ini sepanjang perjalanan ke Finisterre.


Akhirnya dengan semangat tinggi, kita memantapkan langkah lagi menyebrang jalan dari restoran tadi dan masuk ke jalan kecil sesuai tanda dari tugu camino sebagai penunjuk arah.

Langkah dimulai dari lorong ini..
Awalnya kita melewati Lorong-lorong di antara bangunan-bangunan perumahan pedesaan yang tertata rapi.


Terus berjalan naik melewati jalan raya beraspal yang sepi karena jarang kendaraan lewat. Kami berjalan agak cepat mengingat waktu yang sangat terbatas.


Nafas berpacu dengan waktu seiring langkah yang memburu.. Tapi tengoklah ke sebelah kirimu, sepanjang mata memandang  pantai yang indah dan tenang sangat memanjakan mata dan jiwa sehingga terlupakan rasa cape dan lelah. Ya Tuhan Kau bawa kami sampai sejauh ini untuk menikmati keagunganMU..


Kaki terus melangkah seiring ayunan semangat kami untuk segera sampai ke ujungnya dunia sambil bersenandung lagu perjuangan.. Sebenarnya kami ber 5 jalan terpisah karena menyesuaikan dengan kemapuan kami masing-masing.


Kami sepakat,  harus ada di antara kami yang sampai ke sana!! syukur-syukur kalau semuanya nyampe.. aduuh berat banget nih jalan, rasanya ga nyampe-nyampe padahal sudah hampir 1 jam kita berjuang. 

Masih jauh ga ya..? sampai ga kita? Saat menoleh ke belakang, hanya tampak pedesaan yang tertinggal dan jalanan  makin mendaki meninggalkan jejak kaki yang sudah mulai terseok..



Di tengah perjalanan, kami menemukan sebuah patung camino dan berfoto dulu sambil istirahat,  tak disangka ketemu dengan si Kate peziarah dari Hong Kong yang menuju arah pulang. Kami lanjut lagi jalan mendaki dengan sisa-sisa tenaga yang ada.


Menghela nafas panjang dan membuangnya jauh untuk menambah nafas perjuangan. Tidaklah sia-sia perlananan ini dan alangkah senangnya  ketika sampai di tugu camino dengan tulisan 0,356 km. Wah sudah hampir sampai nih.. horree berhasil juga.


Mercusuar yang saya cari sudah tampak dalam bayangan hitam terpapar sinar matahari senja..Makin jalan ke atas, Mercusuar setinggi 238 M yang dibangun tahun 1823 ini tampak semakin nyata berdiri kokoh memandang lautan luas.


Punggung Mercu Suar Fisterra, di puncak Monte Facho, adalah tubir laut hitam–atau Mare Tenebrosum, nama Samudra Atlantik abad pertengahan.


Konon, Monte Facho adalah tempat keramat pada masa pra-sejarah Celtic, suku asli Galicia, Spanyol.


Berjalan beberapa meter lagi hingga kami sampai di tugu camino bertuliskan 0 KM pada pukul 17.20. Sebelum jalan ke tempat lain, tidak lupa kami foto di tugu ini dengan 'Sang Saka Merah Putih' yang berkibar dihembus angin dari samudra Atlantik..


Kami tidak membakar barang apapun dan tidak membuang benda apapun di tempat ini sebagai penanda berakhirnya perjalanan Camino kami.


Hanya kekhawatiran, kecemasan dan kesedihan yang kami tinggalkan digantikan dengan rasa haru, penuh syukur dan bahagia.. Jejak-jejak langkah kami akan tercetak sepanjang masa..


Ketika tiba di bagian terujung Teluk Finisterre atau Faro Cabo Fisterra, matahari senja masih bersinar dengan cerahnya saat kami berjalan ke bibir tebing memandang lautan Atlantik yang yang seperti tak berujung..


Ada sebuah salib besar menghadap lautan dan beberapa turis sedang berfoto di sana. Kamipun berusaha menggapainya dan mengabadikannya dalam jepretan kamera..


Lalu kami duduk merenung memandang bentangan birunya permukaan laut bak permadani, berkilau diterpa sang surya dengan segaris buih putih dari jejak sebuah kapal.


Cakrawala senja semakin membuat bulu kuduku berdiri memandang jauh ke batas lautan, membayangkan bumi yang bundar dan mengingat kebesaran Sang Pencipta.


Lamunan jiwa entah berkelana sampai ke mana kala memandang ke arah lautan yang sepi diterpa semilir angin yang membawa kedamaian..


Mungkin inilah rasanya kenapa Finisterre disebut Ujung dunia.. Kita seakan berada di ujung dunia ketika memandang lautan ini dan rasanya ingin berlama-lama di sini untuk menikmatinya.. enggan rasanya untuk berbalik pulang..


Kami hanya punya waktu sekitar 1 jam saja di Fisterra dan harus balik lagi dengan jalan kaki pada pukul 18.30 semoga sampai ya dan tidak ketinggalan bis ke Santiago..


Beranjak bangkit dengan malas dari bibir tebing, berjalan ke arah Mercusuar dan terus berjalan balik ke arah kami datang adalah hal terberat.


Rasanya belum puas berada di sini menikmati kesunyian dan kedamaian ujung dunia..
Tapi kami harus bergegas pulang karena keterbatasan waktu, menepis segala kejanggalan dan terus mengayunkan kaki dengan langkah gontai.. menoleh ke belakang mengucapkan selamat tinggal Finisterra yang indah.. 

Kami berdua tertinggal di belakang sementara teman kami ber 3 sudah melaju di depan. Dalam keputus asaan, kami berujar kalau ditinggalkan oleh bis itu, biarlah kita sewa taxi saja pulang ke Santiago.. 

Langkah semakin cepat, waktu sudah menunjukan pukul 19.00 sementara saya dan istri masih belum sampai ke terminal bis, malahan nyasar ke jalan .. harusnya lurus ini malah belok karena mengikuti petunjuk yang salah.. duuh


Hampir menyerah dan merasa bahwa kami sudah ditinggal bis.. Hari sudah mulai meredup ketika kami sampai ke tepi pantai dan Puji Tuhan.. bis yang akan kami tumpangi masih ada di sana.. jepret dulu lah 1x..


OMG terima kasih banyak Tuhan, kami masih bisa naik bis itu untuk pulang ke Santiago dan pikiran konyol ketika putus asa mau sewa taxi untuk pulang tidaklah terbukti dan syukur banget,, karena tidak tampak 1 buah mobilpun di sana. Terbayang kalau kami ditinggal bis, mungkin akan terlantar  di sini wkwkwk..


Rupanya teman kami yang ber 3 sudah sampai duluan di bis beberapa menit sebelum pukul 19.00 dan memohon sama sopir bis yang baik hati untuk menunggu kami ber 2 yang sedang berusaha sampai di bis..


Puji Tuhan dan terima kasih sahabat yang baik atas perjuangannya hingga kita bisa pulang bersama lagi menuju Santiago melewatkan malam terakhir camino kita.


Perjalanan pulang terasa lebih lama dan harus berganti bis di salah satu tempat tapi tidak membuat kami kecewa karena perjalanan sangat lancar dan bisa sambil menikmati pemandangan pantai dan kota-kota kecil yang kami lewati saat matahari mulai redup berganti malam..


Sekitar pukul 22.00 kami tiba di Santiago De Compostela, berjalan kaki lagi dari terminal bis dan malam ini kami lewatkan dengan penuh sukacita karena sudah lengkaplah perjalanan Camino kami..


Keesokan harinya, kami bangun pagi dan melangkahkan kaki menuju stasiun kereta api dengan naik taxi dari pinggir jalan raya..


Masih sempat sarapan bareng di Stasiun sambil menunggu kereta datang. Kami ber tiga berangkat duluan menuju Madrid meninggalkan  2 sahabat kami yang jadwal keretanya belakangan menuju Barcelona.. Kami hanya bisa berpelukan dalam perpisahan ini dan melanjutkan perjalanan kami masing-masing.


Terima kasih sahabat.seperjalanan.. sampai ketemu di perjalanan berikutnya..Adios Amigos..