Translate

Tampilkan postingan dengan label ngebolang ke nz. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ngebolang ke nz. Tampilkan semua postingan

Jumat, Juli 22, 2016

Queenstown, South New Zealand

Queenstown, Kota indah di Tepi Danau Wakatipu 

 By: Benediktus Beben

Salah satu kota yang kami singgahi di New Zealand adalah Queenstown.

Kami terpesona dengan keindahan kota ini karena kota ini merupakan  kota wisata dan kota terbesar di wilayah Otago di bagian barat daya Pulau Selatan, New Zealand.

Kota ini bertetangga dengan kota - Kota kecil lainnya seperti Arrowtown, Wanaka, Alexandra, and Cromwell.

Letak kota Queenstown berada di tepi Danau Wakatipu yang airnya sebening kristal, dikelilingi bukit dan pegunungan yang membuat suasana kota ini berhawa sejuk dan segar. Bentangan alam, danau dan gunung menjadikannya cocok untuk segala jenis petualangan. 
Port Queenstown
Ada aktivitas bermain ski di musim dingin dan aktivitas seperti bungy jumping, terjun payung, berayun di ngarai (canyon swinging), naik perahu jet, wisata berkuda,dan arung jeram di sungai sepanjang tahun. Apabila petualangan ekstrim bukan favorit Anda, ada banyak pilihan ringan yang tersedia. Nikmatilah salah satu dari banyak jalur berjalan kaki dan  lintas alam, tur tamasya atau manjakan diri Anda dengan perawatan spa, belanja di butik, dan makanan serta anggur terbaik.
Sudut kota


Jika Anda penggemar Lord of the Rings, Anda akan mengenali banyak lokasi Middle-earth di sini. 
Dua puluh menit dari Queenstown, sejarah tambang emas Arrowtown begitu hidup dan sibuk. Kunjungi Lakes District Museum atau datangi tempat pendulangan emas. Empat puluh menit dari Queenstown, di ujung paling utara Lake Wakatipu, terdapat pedesaan Glenorchy dan Paradise Valley. 
Dari sini, berkendaralah sejenak ke Mt Aspiring National Park dan titik awal dari beberapa tempat berjalan yang luar biasa di New Zealand.

Pagi yang cerah,.. setelah sarapan, kami berangkat dari 180 Kent St Kingston tempat kami menginap menuju kota Queenstown. Suasana pagi ini sungguh cerah dengan pemandangan indah yang terbentang disepanjang perjalanan, menambah keceriaan kami. 
setelah berpetualang di shotover jet
Bukit bukit hijau dengan awan putih berarakan di langit yang cerah, udara segar dan kawanan domba dan sapi yang sedang merumput adalah sebagian besar pemandangan yang sungguh kami nikmati.


Mejeng di Devils Staircase
Menuju arah Queenstown, kami berkendara di sepanjang tepi danau Wakatipu yang luas. 
Ada kelokan bernama Devils Staircase dimana kita bisa memandang danau ini sambil berfoto.

Kelokan ini lumayan tajam sehingga harus hati hati menjaga kecepatan kendaraan. 
Di sebelah kanan jalan adalah dinding bukit bukit batu yang tampak kokoh, sementara sebelah kiri adalah Danau Wakatipu yang sangat luas. 
Saya jadi ingat adegan di film Lord of the Ring yang sangat terkenal itu ketika memandang keindahan danau Wakatipu.  
Sebelum singgah di keramaian kota, ada  satu tempat yang sangat menarik minat kami untuk singgah. 
Satu wahana permainan arung jeram dengan motor boat di sungai bernama Shotover Jet.Karena penasaran, kami ikut antre untuk membeli tiket.
Devils Staircase
Rupanya banyak juga turis yang tertarik dengan petualangan ini. Sungai nya sungguh indah berair bening kebiruan dengan beberapa motor boat berwarna merah sedang beraksi di sungai ini. 
Shotover Jet
Akhirnya giliran kami untuk memulai petualangan. Driver kami bernama Joseph, masih muda dan ganteng. Dia membawa kami ber 12 orang berpetualang dengan kecepatan yang prima mengarungi sungai dengan batu batuan tajam di pinggir boat kami... seruuu dan menegangkan.
Shotover Jet
Setelah sedikit berpetualang dengan shotover Jet, kami singgah di tengah kota untuk sekalian makan siang. Jalan jalan di taman kota di pinggir danau, tiduran di rumput hijau mengejar burung burung camar yang ada di sekitar geladak kapal adalah hal yang menyenangkan. 
kecapean di taman kota
Minus 5 Ice Bar
Cheeerrrs
Kota Queenstown di tepi danau
Port Queenstown
Add caption
Sore harinya kami mampir di minus 5 ice Bar, sebuah wine bar dengan suhu -5 derajat celcius. Dengan dilengkapi jaket tebal, kami memasuki dinginnya Bar eksotik ini.. minum wine dengan gelas dari es batu, sambil duduk di bangku es meja, joget joget kaya orang mabuk.. hmm pengalaman yang berbeda..

Selebihnya, kami sangat terkesan berwisata di kota Queenstown yang sangat indah ini. bermimpi untuk tingggal di kota ini merupakan khayalan yang menyenangkan ...

Sabtu, Maret 12, 2016

Auckland, North New Zealand

Perjalanan Terakhir Sang Sahabat


Auckland
Auckland adalah kota Metropolitan terbesar di Selandia Baru. Penduduknya berjumlah 1.354.900 jiwa. Auckland yang dalam bahasa Maori disebut Tamaki Makau Rau, terletak di Pulau utara Selandia baru.

Menurut sejarah, Penghuni awal dari kota ini adalah pelaut Maori, mereka datang sekitar tahun 1350, kemudian disusul oleh orang-orang dari kepulauan polinesia.

Mereka membangun desa-desa di sekitar gunung berapi yang memiliki tanah yang subur. Penduduk Maori di daerah tersebut diperkirakan mencapai sekitar 20.000 orang sebelum kedatangan orang Eropa.

Peperangan antar suku Maori menyebabkan wilayah ini memiliki jumlah yang relatif rendah orang Maorinya ketika orang Eropa datang dan mendirikan pemukiman di wilayah ini.

Pada tanggal 27 Januari 1832, Joseph Brooks Weller, anak tertua dari Weller bersaudara dari Otago dan Sydney Australia, membeli tanah yang sekarang menjadi situs modern kota Auckland dari "Cohi Rangatira".

Setelah penandatanganan Perjanjian Waitangi pada bulan Februari 1840, Gubernur pertama Selandia Baru, Kapten William Hobson, memilih daerah ini sebagai ibu kota baru, dan mengambil nama "Auckland" sebagai penghormatan kepada pelindung dan mantan komandannya George Eden, Earl of Auckland, yang pada saat itu menjadi Viceroy of India. 

Tanah tempat Auckland didirkan merupakan hadiah kepada Gubernur tersebut oleh suku lokal Maori Ngati Whatua, sebagai tanda goodwill dan dengan harapan bahwa pembangunan kota akan menarik peluang dagang dan politik untuk suku tersebut.

Auckland secara resmi dinyatakan sebagai ibu kota Selandia Baru pada tahun 1841, namun pada tahun 1865, ibu kota Selandia Baru dipindahkan ke Wellington.

Kami trip ke Auckland pada bulan Maret 2016. Perjalanan di kota Auckland yang terletak di Utara sedikit berbeda dengan NZ selatan. Di Utara tampak lebih padat perumahan penduduknya. Pemandangan bukit dan lembah dengan domba dan sapinya sudah mulai berkurang tapi tetap indah dan alami. Kami tinggal dan menginap Selama 2 hari di Auckland dan tidak banyak tempat yang bisa kami kunjungi karena berniat agak santai di rumah teman kami. 

Kami hanya mengunjungi auckland Tower sebagai salah satu Icon kota, ke supermarket dan tempat belanja di tengah kota membeli beberapa cendera mata dan sempat juga ke gereja di hari minggu. Gereja St. Paul umatnya banyak orang Samoa, Fiji dan pulau pulau kecil di sekitar NZ sehingga nuansa etnis sangat terasa ketika misa berlangsung.
St. patrick's Cathedral

Selama tinggal  di rumah, kami isi dengan kegiatan santai seperti memasak. Terus terang ketika di supermarket kami tertarik untuk membeli daging segar dari peternakan NZ yang sangat terkenal dan memasaknya di rumah. Daging sapi, domba, ayam dan lain lain tampak masih segar. Dan setelah diolah menjadi masakan, memang rasa daging nya luar biasa enak... saya pikir mungkin karena ternak2 itu hidup alami berkeliaran di padang2 rumput hijau dengan bebasnya...

jadi tukang potong pohon ..
Kegiatan lainnya adalah membantu teman kami memotong pohon di samping dan belakang rumah.. seru juga jadi pemotong pohon di NZ. katanya kalau kita panggil tukang bayarannya sangat mahal.. hmm... Dengan perlengkapan  ala tukang tebang pohon profesional.. dengan topi, kacamata, sepatu dan mesin pemotong, kami beraksi bahu membahu menebang pohon yang sudah condong ke rumah tetangga. Menyenangkan juga sampai kebun rumah keliatan lebih rapi dan bersih. 

Banyak burung burung aneka jenis dengan suara merdu di pohon di belakang rumah. Saya tidak tahu namanya tetapi yang jelas burung burung itu bebas bermain di sana. Katanya di NZ tidak ada ular dan binatang buas lainnya kebanyakan aneka jenis burung yang hidup di sana diantaranya burung Kiwi yang sangat terkenal, burung Pokeko dan banyak lagi.

Kami merasa senang selama tinggal di rumah sahabat kami di Auckland dan merasakan perjalanan yang sangat mengesankan mengitari NZ dari selatan sampai utara.Terima kasih sahabatku di Auckland yang sudah memberi tumpangan buat kami . God Bless you always.
Pengalaman dalam perjalanan di New zealand ternyata menjadi perjalanan terakhir bersama sahabat kami Oyong yang telah berpulang ke Rumah Bapa di Surga di bln Oktober 2016 atau sekitar 6 bulan setelah perjalanan kami bersamanya. Walau merasa kehilangan, Kami bahagia bisa mengantar dia bertemu dengan saudara sepupunya di Auckland dan meninggalkan kenangan manis dan persahabatan. Selamat jalan sahabat.. Bahagia di Rumah Bapa..




Jumat, Maret 11, 2016

Rotorua , North New Zealand


 Aroma Belerang di kota Wisata Rotorua

By: Benediktus Beben

Wai O Tapu, Rotorua
Dalam perjalanan ke Utara NZ, kami mampir di kota yang unik bernama Rotorua untuk bermalam di sana.  

Aroma belerang yang tercium samar-samar di udara dan desis uap adalah ciri-ciri utama ketika memasuki kota ini.. Hal ini terjadi karena Rotorua terkenal dengan aktivitas geotermalnya.

Menurut informasi dari berbagai sumber, Rotorua adalah sebuah kota di tepi selatan Danau Rotorua di region Bay of Plenty di Pulau Utara Selandia Baru.

Terletak 60 km di selatan Tauranga, 105 km di tenggara Hamilton dan 82 km di timur laut Taupo. Distrik ini terbagi antara Bay of Plenty (61.52 persen wilayahnya) dan Waikato (38.38 persen).
Wai O Tapu
Pinggiran Rotorua adalah Ngongotaha, Fairy Springs, Selwyn Heights, Kawaha Point, Western Heights, Pukehangi, Pleasant Heights, Mangakakahi, Sunnybrook, Pomare, Utuhina, Ohinemutu, Koutu, Hillcrest, Matipo Heights, Glenholme, Fordlands, Springfield, Rotorua West, Fenton Park, Whakarewarewa, Waipa Village, Tihiotanga, Ngapuna, Lynmore, Te Ngae, Owhata, Hannahs Bay, Holdens Bay dan Rotokawa.

Selain Geotermal, terdapat juga sejumlah geyser, yang terkenal antara lain geyser Pohutu di Whakarewarewa, dan kolam lumpur panas yang berasal dari kaldera.  Karena keunikannya ini, Rotorua pernah  memenangkan "Penghargaan Kota Terindah di Selandia Baru" tahun 2002 dan 2006.

Rotorua adalah bagian dari Volcanic Zone, lahan geotermal yang membentang dari White Island di lepas pesisir Bay of Plenty hingga Mount Ruapehu di pusat North Island.       
melepas lelah di saung Wai o Tapu

Di Whakarewarewa - The Living Thermal Village, penduduknya telah berperan sebagai tuan rumah dan akan menyambut pengunjung ke rumah dan pekarangan belakang mereka sejak era 1800-an, sambil mendemonstrasikan penggunaan keajaiban geotermal alami untuk memasak, mandi, dan kehidupan sehari-hari. Rotorua memiliki sejarah yang kaya, dengan warisan kota ini yang terlihat di segala penjuru.

Danau belerang
Government Gardens yang cantik di Rotorua merupakan area Waahi Tapu dan keramat bagi suku Maori, karena memiliki sejarah luar biasa sebagai medan perang dan lahan pemakaman.
   
Menawarkan kehangatan sambutan dan keramahtamahan yang tulus (manaakitanga) adalah hal yang selalu disajikan oleh suku Te Arawa Maori kepada pengunjung di kawasan Rotorua selama lebih dari 150 tahun.

di sudut kebun binatang khas NZ
Kami tiba di sebuah penginapan yang Asri di sebuah sudut jalan di kota Rotorua. Ketika memasuki pekarangan Hotel kecil ini tampak sebuah kolam beruap panas di pinggir halaman menandakan ciri khas kota Rotorua dengan termalnya. 

Setelah membereskan barang- barang di dalam kamar hotel, saya sempat merasakan sensasi berendam di kamar berendam yang disediakan hotel sebagai fasilitas untuk tamunya. Aroma belerang yang lembut dan air hangat serasa memijit badan saya yang letih sehabis perjalanan.
Lady Knox Geyser

Di kota Rotorua inilah kami menemui banyak suku Maori tinggal. Orang Maori dengan postur tubuh tinggi besar, berambut ikan dan berkulit coklat kegelapan merupakan suku asli New Zealand. 

Kalau anda ingin mengenal lebih jauh suku Maori, berkelanalah ke masa lalu di desa Maori. Anda akan memperoleh gambaran jelas tentang gaya hidup dan tradisi Maori - dengan nyanyian, tarian, dan jamuan makan bernama hangi  ( cara masak tradisional suku Maori yang memasak makanan  di atas batu panas).

Keesokan harinya kami berkunjung ke Waitomo Glow worm Caves dimana terdapat gua yang unik.

Yang membuat unik gua gua ini bukan hanya stalagtit dan stalagmit nya saja tapi penghuninya.

Devil's Bath
Di dalam kesunyian dan kegelapan gua gua ini disepanjang dinding langit- langit gua, hidup ribuan cacing yang memancarkan cahaya terang seperti rangkaian bintang bintang di langit. Kami dibawa dengan perahu menyusuri gua ini. Dalam keheningan hanya ditemani bunyi cipratan air dari dayung perahu, kami memandang ke langit langit gua, mengagumi ribuan bahkan jutaan kerlip cahaya yang berasal dari cacing cacing yang hanya hidup di Gua ini.

Maori Village
Tempat lain yang kami kunjungi yaitu pusat termal bernama Wai O Tapu. Banyak letupan belerang yang bisa kami lihat di sini. Masuk ke dalam area ini, tampak banyak sekali turis yang duduk di bangku arena seperti sedang menunggu suatu pertunjukan yang akan segera dimulai. Kami pun penasaran duduk di antara kerumunan turis dengan kamera di tangan untuk membidik atraksi apa yang akan terjadi. Setelah sekian lama menunggu... woww amazing.. semburan geyser yang sangat tinggi menyembur ke angkasa.. inilah Lady Knox Geyser yang menyembur tiap hari dan menjadi pertunjukan yang dinanti para turis.
menanti atraksi semburan geyser

Semakin jauh berjalan, kami menemukan Warna-warni cemerlang dari danau-danau belerang yang sungguh indah dan bararomakan belerang yang merupakan ciri khas Artists Palette and Champagne Pool Wai-O-Tapu Thermal Wonderland. Ada danau berwarna hijau cerah , Orange, putih kehijau hijauan yang semuanya sungguh indah di pandang mata. Kami berjalan cukup jauh untuk menikmati alam yang indah ini.. dikelilingi pepohonan hijau dan angin semilir, aroma belerang yang lembut dan warna warni danau belerang yang indah, sungguh pengalaman tak terlupakan.
Glow worm caves




Kamis, Maret 10, 2016

Wellington, North New Zealand

Angin Kencang di kota Angin...



Wellington
Dari pelabuhan kota Picton di selatan NZ, kami naik kapal Ferry untuk menyeberang ke Utara menuju pelabuhan kota Wellington. Perjalanan ditempuh sekitar 2 jam. 

Kapal Ferry yang kami tumpangi sangat bagus dan bersih. Banyak sofa dan tempat nongkrong sambil minum secangkir kopi dengan santai. Kami tiba di kota Wellington hampir pukul 10 malam.

Ada seorang teman saya yang kebetulan tinggal di kota ini dan sudah janjian untuk  bertemu. Sesampainya di hotel, kami istirahat sebentar dan pergi ke tengah kota bersama teman kami untuk sekedar  ngobrol dan sekalian makan malam.

Cuaca malam itu cerah tetapi dingin dan berangin, kami berjalan turun dari hotel ke tempat keramaian. Kehidupan malam di kota ini sekilas tampak sangat menyenangkan dan ramai. Sayangnya restaurant yang direkomendasikan teman kami sudah tutup jadi kita makan di restauran Chinese yang ada saja.


bersama teman kami, Ita
Menu makan malam nya lumayan enak. Kami sempat foto foto di keramaian malam kota ini. Sayangnya waktu kami sangat terbatas karena hari sudah menjelang tengah malam. Sambil jalan kaki pulang ke hotel, kami sempat singgah ke sebuah Bar dewasa hanya sekedar melepas rasa ingin tau... Pengalaman yang tak terlupakan. Tak terasa hari terus beranjak malam .. sambil ngobrol santai, kami menyusuri jalanan yang sepi pulang ke hotel dan berpisah dengan teman kami di persimpangan jalan. Malam yang cukup melelahkan sehingga tidur di hotel yang cukup bagus ini membuat kami terlelap sampai pagi...

Pelabuhan kota Picton
Kota Wellington terkenal dengan sebutan "Windy Wellington" .. kami baru percaya ketika jalan jalan esok harinya di kota ini. Angin kencang menerpa kami sampai mau terbang terbawa angin rasanya. Brrr....  anginnya sungguh luar biasa. Kami menyusuri pelabuhan kota untuk mendapatkan lokasi dimana ada bukit bertuliskan 'wellington' untuk berfoto sebagai bukti kita pernah singgah di kota ini. Holaaa  ...setelah mengitari pantai sekian lama, akhirnya tampak di kejauhan tulisan kota wellington di atas sebuah dinding bukit. Lagi lagi angin bertiup kencang sampai perlu sedikit perjuangan untuk mengambil foto dengan baik.. hasilnya ya... begitulah.. foto dengan rambut acak acakan diterpa angin wellington...
Gereja tua St. Paul

Sebelum melanjutkan perjalanan, kami singgah di salah satu gereja tua bernama Old St. Paul yang sudah tidak digunakan lagi sebagai tempat ibadat tetapi hanya berfungsi sebagai sebuah museum dan tempat wisata saja. Gereja yang terbuat dari kayu ini sungguh menarik karena sangat bersejarah. Tetapi walaupun Gereja ini sudah tidak berfungsi sebagai tempat ibadat, masih ada umat yang datang untuk berdoa. Tempatnya sungguh asri dan nyaman dengan wangi bunga yang semebak dari pelataran altar Gereja.

Di sudut depan tampak ada stand Souvenir yang menjual benda benda rohani dan souvenir indah lainnya. Gereja ini didominasi dengan ornament kayu tua yang sangat kuat. Altar, mimbar, bangku gereja dan pintu semuanya terbuat dari kayu yang kokoh.

Selamat tinggal Windy Wellington...




Sabtu, Maret 05, 2016

Milford Sound, South New Zealand

Menelajahi  Dunia Lord Of The Ring

Milford Sound
By : Benediktus Beben

Selepas makan siang di sebuah Cafe pinggir Botanical Garden di kota Christchurch, kami melanjutkan perjalanan ke kota Kingston sebagai base camp kami selanjutnya.

Pertimbangannya kota ini ada di tengah tengah Queenstown dan Milford sound.

Kata orang kunjungan ke New Zealand belum lengkap kalau belum ke South Island. 

Tapi ada pepatah satu lagi, ke South Island belum lengkap kalau belum melihat Milford Sound.

Makanya kita bela belain untuk sampai ke sana. Apakah Sound itu? Sound adalah lembah gunung yang terjadi akibat tekanan glacier selama ribuan tahun lalu mencair dan mengakibatkan naiknya air laut dan menggenangi lembah ini. Milford Sound dan Doubtful Sound adalah contoh akibat proses ini, dan keseluruhan wilayah ini dinamakan fiordland.

Danau Tekapo
Perjalanan ke Kingston sangat panjang, tetapi percayalah.. mengemudi mobil di NZ sangat menyenangkan karena rasa cape terbayar oleh pemandangan yang indah sepanjang perjalanan. 

Tidak ada traffic light.. kita hanya ikuti aturan kecepatan saja. Maksimal 100 km per jam dan ikuti rambu rambu kecepatan di kiri kanan jalan. 
Danau Pukaki

Kalau melewati pemukiman penduduk kecepatan harus 75 km /jam dan kalau melewati sekolah, kecepatan harus turun lagi menjadi 50 km/jam, kalau ada tikungan tajam kecepatan turun lagi menjadi 25 km/jam.

Dengan jalan lebar dan kosong tanpa kemacetan, rasanya ingin menambah laju kendaraan tapi rasa takut ditilang polisi mengalahkan rasa itu.

Jadi kita jalan sesuai aturan sambil menikmati pemandangan yang indah...lembah dan gunung menghijau, langit cerah dan awan awan putih, serta rumah rumah mungil dan unik merupakan pemandangan yang sangat menakjubkan di sepanjang perjalanan.

Dalam perjalanan ke kota Kingston kami melewati beberapa danau yang cantik diantarnya Danau Tekapo dan danau Pukaki.

On the Road
Kami sempat singgah untuk istirahat di kedua danau ini. Air yang jernih dengan pemandangan indah sungguh luar biasa.

Lake View House
Sekitar jam 10 malam, akhirnya kami tiba di Kingston dan langsung mencari Holiday house bernama Lake View House 180 Kent St. Kingston yang sudah kami booking sebelumnya.

Kami agak kesulitan mencari rumah ini karena jalanan gelap. Akhirnya ketemu juga rumah itu dalam kegelapan.

Setelah bisa masuk ke dalam rumah dan menyalakan lampu lampu, rumah yang rapi dan bersih sudah siap kita huni. Kmar tidur, ruang keluarga , dapur , ruang makan dan kamar mandi semuanya rapi dan bersih.. hmm home sweet home...

Tampak dari jendela keadaan di luar masih belum tampak indahnya karena gelap. Tetapi dari halaman rumah kerlap kerlip jutaan bintang sangat nyata dan terang.. tampak sangat dekat ke langit luas.

Keesokan harinya, ketika membuka tirai kamar...
wooow surprise.. ternyata pemandangan di luar sangat indah.  Di depan halaman rumah tempat kita nginap tampak pemandangan danau yang indah, ada kebun di belakang rumah dan ada pohon apel dengan buahnya yang ranum.. hmm nikmatnya.

Di halaman holiday house
Hari ini jadwal kita ke Milford sound. Pagi sekitar pukul 7 kita berangkat dari Kingston dan harus menempuh perjalanan kurang lebih 4 jam ke sana melewati kota Te Anau. Kota ini jadi tempat transit juga buat turis yang mau pergi ke Milford sound.

Selepas Kingston, pemandangan yang tersaji adalah hamparan bukit-bukit dan biri-biri. Yah, biri-biri yang luar biasa banyaknya.

Domba di sepanjang perjalanan
Jika mengendarai mobil, di kota Te Anau inilah kesempatan untuk isi bensin dan beli air minum.

Pastikan bahan bakar terisi cukup untuk pulang pergi Te Anau - Milford Sound karena tidak ada service station lagi di rute ini.

Jika membayangkan bahwa perjalanan dari Kingston menuju Milford Sound memerlukan waktu 4 jam dengan mobil, pasti terbayang lelahnya menyetir mobil selama ini. Namun kenyataannya inilah salah satu dari "Best Road Drive in the World".

Keluar dari Te Anau, siapkan kamera untuk menangkap pemandangan yang luar biasa  menuju Milford Sound. Milford Road sepanjang 121 km sudah diakui sebagai World Heritage Highway.

Pemandangan akan berganti-ganti dari tanah landai dengan backdrop pegunungan menjulang, hutan yang indah dengan bentuk pepohonan yang unik (hijau atau kuning tergantung musim), serta danau dan sungai. Anda bisa membayangkannya kalau anda penggemar film "Lord Of The Rings".
Pemandangan seperjalanan

kebetulan pada saat kita pergi, lagi sedikit musim hujan sehingga pemandangan salju nyaris tidak ada. Hanya ada sedikit sisa salju di puncak gunung tinggi.

Banyak scenery di sepanjang jalan ini yang memungkinkan turis untuk melakukan trail walk, hiking atau camping, yang sayangnya tidak sempat saya lakukan karena keterbatasan waktu.

Kita banyak berpapasan dengan Camper Van yang menuju camping area, Turis turis yang mengayuh sepeda dengan semangatnya juga para pejalan kaki dengan ransel di punggungnya.

Tiba tiba jalanan sedikit macet, pikir saya mungkin karena gerimis hujan. Ternyata ketika mobil berjalan pelan, kita sudah dihadapkan pada sebuah tunnel atau terowongan yang harus kita lalui bergantian.

Homer Tunel
Homer Tunnel adalah sebuah terowongan kecil menembus gunung sepanjang 1,2km. Mobil harus mematuhi lampu petunjuk di depan tunnel karena hanya boleh satu arah untuk satu periode.

Jadi jika lampu merah, berarti kita harus menunggu (bisa sekitar 15 menit) untuk arah bergantian.

Terowongan ini bisa dibilang tidak istimewa, yang penting fungsinya kan menembus gunung batu.

Jalannya cukup gelap dan menurun terus (jika ke arah Milford), licin saat winter/spring (akibat tetesan salju yang mencair), jadi sudah pasti tidak bisa ngebut.

Perjalanan 19km berikutnya adalah menuruni lereng gunung, berkelok-kelok model tapal kuda lalu akan flat saat memasuki Fiordland. Di akhir perjalanan ini adalah Milford Sound.
Milford Sound
Setelah parkir mobil, kita menuju Lobby keberangkatan Cruise.

Kita bisa membeli tiket on the spot saat kita mau berangkat atau membeli tiket cruise Milford Sound secara online, kadang ada diskon hingga 50%, seperti yang kita lakukan. Sambil menunggu jadwal keberangkatan Cruise, kita bisa foto foto dari dermaga sambil melihat pemandangan ke arah seputar Milford.
Go Orange Cruise

Ada beberapa cruise tour operator di sini yang bisa kita pilih. Ada Southern Discovery, Real Journey, Go Orange dan Jucy Cruise. Ada cruise 1 jam 45 menit, ada yang 2 jam 15 menit, yang lebih lama biasa akan ada tour untuk kehidupan satwa dan opsi Underwater Observatory.

Harga tiket kurang lebih sama antar operator, berkisar NZD 60-85 per orang. Mahalnya tergantung jam berangkat (peak 11am-1pm paling mahal), dan ada overnight cruise.

Hari ini turis tidak terlalu padat, Kapal yang akan membawa kita yaitu Go Orange sudah berlabuh di dermaga. Tiba saatnya kita naik untuk meng explore keindahan Milford Sound. Kami beruntung cuaca hari ini sangat cerah. Karena Cuaca cukup berperan untuk kenyamanan cruise, jadi pastikan tidak datang jika ramalan cuaca mengatakan hujan atau salju.

Tips: Ferry tour Milford Sound paling ramai adalah departure jam 11am-1pm, di mana rata-rata turis yang menggunakan tour bus datang. Jadi usahakan berangkat pagi-pagi sekali (5-6am) dari Queenstown untuk mendahului mereka, atau justru siang (9-10am) supaya tiba di Milford sekitar jam 4pm untuk afternoon cruise.

Kapal mulai bergerak... tampak di sekeliling kita air terjun yang sangat indah... semakin ke tengah pemandangan semakin indah dan menakjubkan. Ada 2 air terjun di sisi kanan: Stirling Falls (146m) dan Bowen Falls (160m).

Huka Falls
Pegunungan yang sebagian berselimutkan awan putih dengan lembah lembahnya yang hijau dengan banyak air terjun yang mengalir deras, hutan hutan dengan pepohonan yang unik seakan membawa kita masuk ke dunia film "Lord Of The Ring"

Mulut tercekat rasanya karena takjub akan keindahannya. Dari atas kapal, sekeliling danau semuanya menakjubkan. Kami sempat melihat beberapa anjing laut sedang tidur sambil berjemur di atas batu batuan di tepi danau.

Highlight dari cruise ini adalah mengelilingi Sound hingga mendekati mulut Tasman Sea lalu putar kembali. Yang utama yang menjadi icon foto postcard adalah Mitre Peak, gunung setinggi 1492m yang menyerupai mitre (topi uskup).

Setelah cukup puas mengabadikan keindahan dengan mata dan kamera, kami menuju restoran kapal untuk menukarkan voucher makan yang kami dapat. Secangkir kopi dan cemilan terasa sangat nikmat sambil tak lepas mata memandangi keajaiban alam di sekeliling kami. Setelah kurang lebih 2 jam mengagumi Milford Sound, kami ngopi lagi di sebuah cafe yang ada di sekitar dermaga. Udara sejuk dan hangatnya matahari membuat suasana sungguh damai. Tengah hari kami kembali ke mobil untuk pulang kembali ke kota Kingston.

Eat Like Kiwi
Perjalanan pulang dari Milford Sound tentu lebih santai. Kita bisa lebih menikmati pemandangan sekitar dan mengabadikannya dalam kamera.

Mirror Lake
Dalam perjalanan banyak sekali sungai sungai kecil (Creek) dengan air yang mengalir jernih. Kami sempat mampir ke Blue Pool dimana air sungainya sangat biru dengan bebatuan sungai berbagai ragam bentuknya.

Blue Pool
Para turis suka menyusun bebatuan itu membentuk Stone Hangs. Ada 1 danau kecil lagi yang sangat indah yang tidak boleh dilewatkan yang bernama Mirror Lake. Semua pemandangan di sana seakan tercermin di permukaan danau ini. Bebek rawa berwarna hijau tampak sedang berenang dengan elegant di permukaan kaca..
Stone Hangs, Blue Pool