Translate

Tampilkan postingan dengan label info jalan jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label info jalan jalan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, November 18, 2023

Paris di Waktu Hujan

Paris, Sepenggal Kenangan

By: Benediktus Beben


Setelah wisata di Kota Porto Portugal, kami melanjutkan perjalanan ke kota Paris Perancis sebagai kota singgah terakhir sebelum pulang ke tanah air. Setelah 3 hari ngubek kota Porto yang menawan, akhirnya kami terbang ke kota Paris dengan maskapai Ryan Air Ryanair FR7474 dari Francisco Sa Carneiro International Airport, Porto (OPO) dan Tiba di Beauvais Tille Airport ( BVA),Paris pada hari Sabtu tanggal 15 Oktober 2022.

Sebelum ngubek kota Paris, saya kutip beberapa ulasan dari berbagai sumber, tentang kota yang sangat terkenal ini. 

Paris dengan luas 105.397 km², terletak di tepian Sungai Seine dan terdiri dari dua pulau yaitu  Île Saint-Louis dan Île de la Cité, yang membentuk bagian tertua kota. Kontur kota Paris pada umumnya datar dengan titik terendahnya 35 meter (114 kaki) di atas permukaan laut. Namun demikian, Paris juga memiliki beberapa bukit, yang tertingi adalah Montmartre pada 130 m (426 kaki).

Paris memiliki iklim laut yang dipengaruhi Arus Atlantik Utara, sehingga kota ini memiliki iklim sedang dan jarang sekali mengalami temperatur tinggi atau rendah. Hujan dapat terjadi kapanpun sepanjang tahun, dan Paris dikenal untuk hujan mendadaknya, sehingga sering dikatakan Kota Paris sangat romantis di kala hujan. Salju juga agak jarang turun di kota ini, kadang-kadang muncul pada bulan terdingin Desember, Januari atau Februari.

Paris telah mengalami berbagai perubahan sejak pertengahan abad ke-19 sampai menjadi kota yang sangat modern seperti saat ini dan menjelma menjadi kota tujuan pedagang, pelajar dan peziarah. Sebagai salah satu kota paling ikonik di dunia, hampir semua sudut tempat yang ada di Paris menarik untuk dikunjungi. 

Sebenarnya, ini adalah kunjungan ke 2 saya dan istri ke kota Paris setelah kunjungan pertama kami di tahun 2016. Tapi kunjungan kali ini sangat terasa berbeda karena lanjutan perjalanan kami setelah Camino Santiago dan bisa lebih lama tinggal di kota ini. Karena persahabatan yang erat antara teman seperjalanan kami Pak Valen dan Bli Putu dengan Bapak Dubes Perancis, kami beruntung bisa singgah di wisma kedutaan Indonesia di Paris.

Setibanya di Airport Paris, kami dijemput oleh staff kedutaan dan malam ini, kami  diijinkan kembali nginap di wisma kedutaan. Paris diguyur hujan hari ini dan sesampainya di wisma, kami disambut dengan sangat ramah oleh Bapak dan Ibu Dubes. Setelah mengobrol sebentar, kamipun istirahat di kamar yang telah disediakan. 

Keesokan harinya, setelah sarapan pagi bersama Bapak dan Ibu Dubes, kamipun minta ijin untuk jalan-jalan di kota Paris. Karena hari hujan, kami diantar oleh Staff kedutaan mengunjungi Versailles, yaitu sebuah château/Istana yang berlokasi di Versailles yang berjalak 19 kilometer arah barat Paris. Sambil berpayung hujan, kamipun mengunjungi tempat ini dengan sedikit kerepotan karena basah dan jalannya agak jauh karena istana ini ternyata sangat luas.

Versailles dibangun oleh Raja Louis XIV, Putra dan penerus Louis XIII. Awalnya Raja Louisb XIV tinggal di Louvre Paris seperti raja-raja sebelumnya tapi kemudian memutuskan untuk memindahkan pemerintah ke luar Paris. Pembanguna Istana Versailles ini menghabiskan waktu 5 dekade untuk memperluas chateau yang dulu menjadi tempat berburu ayahnya. Setelah pembangunan selesai, bangsawan Prancis sering menghadiri banyak acara seremonial di Versailles.

Versailles
Hari ini Paris benar-benar diguyur hujan seharian sehingga kami selalu berpayung fantasi ketika jalan dari tempat satu ke tempat lainnya. 

Setelah dari Versailles, kami mengunjungi PALAIS GARNIER atau disebut dengan Opera Garnier, Opera de Paris, atau the Opera. Sebenarnya hanya berupa gedung opera tua yang bertuliskan Academie Nationale de Musique. Letak Palais Garnier ini berada di Boulevard des Capucines, di 9th arrondissement of Paris. Palais Garnier ini dibangun pada pertengahan abad 19, dan kini masih digunakan sebagai tempat pertunjukan. Bangunan ini merupakan teater ke 13 dari Paris opera atau Opera de Paris yang pertama dibentuk oleh raja Louis XIV sejak tahun 1669. 

Tetapi pembangunan Palais Garnier sendiri atas perintah Napoleon III, melalui Baron Haussman yang mengerjakan proyek rekonstruksi great parisian. Gedung ini dinamakan Palais Garnier karena yang membangun gedung ini adalah Charles Garnier, seorang arsitek yang memenangkan kompetisi untuk membangun gedung ini dan dikerjakan antara tahun 1860-1875.  


Bangunan bergaya neo baroque berhiaskan pilar-pilar marmer dan deretan patung mitologi Yunani kuno di bagian depan bangunan. Patung-patung dan hiasan marmer tersebut, menggambarkan dewa dan dewi Yunani, dan seniman-seniman besar seperti Auber, Beethoven, Mozart dan Rossini.

Dari gedung opera, kami lanjutkan perjalanan mengunjungi LOUVRE, museum terkenal yang memiliki koleksi seni yang paling beragam di dunia. Koleksi-koleksi tersebut meliputi koleksi dari periode zaman kuno hingga abad ke-19 termasuk Mona Lisa dan patung Venus de Milo . Louvre dikunjungi 8 juta orang per tahun, menjadi museum seni yang paling sering dikunjungi di dunia. 

Dahulu, lokasi Museum Louvre merupakan istana kerajaan selama lebih dari dua abad dan Louvre sendiri merupakan benteng yang dibangun di masa pemerintahan Raja Philip II.Pemerintah revolusioner Perancis baru membukanya sebagai museum pada 10 Agustus 1793.


Dilansir History, benteng tersebut ingin dialihfungsikan sebagai istana kerajaan oleh Raja Francis I pada 1546. Francis I yang terkenal sebagai kolektor karya seni itu meminta bantuan arsitek Pierre Lescot untuk mengawasi pembangunan Istana Louvre. Setelah Francis meninggal, raja-raja setelahnya terus memperluas pembangunan Istana Louvre, termasuk Raja Henry II dan Charles IX.

Mereka memperluas pekarangan dan bangunan sampai di masa Louis XIII dan Louis XIV di abad ke-17. Luasnya kini mencapai 60.600 meter persegi. Kedua raja itu juga memperkaya koleksi karya seni di istana. Contohnya koleksi karya seni yang diperoleh Louis XIV dari Raja Inggris Charles I setelah eksekusinya dalam Perang Saudara Inggris. Namun pada 1682, Louis XIV memindahkan istananya ke Versailles, dengan alasan untuk mendapatkan lebih banyak kendali pemerintahan dari kaum bangsawan dan menjauhkan diri dari penduduk Paris. Dengan begitu, Louvre tidak lagi difungsikan sebagai kediaman utama kerajaan. Namun karya seni dan koleksi benda-benda bersejarah masih tersimpan di sana.

Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan mengunjungi Gerbang kemenangan atau ARC DE TRIOMPHE  yang dibangun pada tahun 1806 oleh Napoleon Bonaparte, setelah kemenangannya di Austerlitz. Bangunan tersebut dibangun dengan tujuan menghormati tentara besar Prancis, Grande Armee, yang dianggap tak terkalahkan saat itu. Ketika itu, Grande Armee berhasil menaklukkan sebagian besar Eropa.Pada tanggal 11 November 1923, seorang pegawai pemerintahan Perancis, Andre Maginot, menyalakan api kenangan abadi di sekitar Arc de Triomphe. Sejak saat itu, api tersebut tak pernah padam sampai saat ini.

Tempat lain yang kami kunjungi hari ini tentu saja Menara paling ikonik di dunia yaitu EIFFEL TOWER  atau Menara Eiffel. Walaupun hujan masih turun, kami senang sekali bisa berfoto di Eiffel di saat hujan. Menara Eiffel sebelumnya bernama Menara Paris merupakan sebuah menara besi yang dibangun di Champ de Mars di tepi Sungai Seine, Paris. Menara ini telah menjadi ikon utama negara Prancis dan salah satu struktur paling terkenal di dunia yang kemudian berubah nama menjadi menara Eiffel  sesuai nama perancangnya, Gustave Eiffel.


Dari Menara Eiffel, kami lanjutkan perjalanan menuju MONTMARTRE  yang merupakan sebuah bukit  setinggi 130 meter, Montmartre dikenal karena Basilica of the Sacré Cœur berkubah putih di puncaknya dan sebagai distrik klub malam. 

Gereja lain yang lebih tua di bukit ini adalah Saint Pierre de Montmartre, yang dianggap sebagai lokasi di mana perintah pendeta Jesuit ditetapkan. Banyak seniman yang mendirikan studio atau bekerja di sekitar komunitas Montmartre seperti Salvador Dalí, Modigliani, Claude Monet, Pablo Picasso dan Vincent van Gogh. Pada saat kami sampai di lokasi ini, hari masih hujan tapi banyak turis berkunjung ke tempat ini. Dari bukit Montmartre ini kami bisa melihat kota Paris dari kejauhan.

Selain tempat-tempat yang kami kunjungi di atas, tentu masih banyak destinasi wisata di kota Paris yang sangat terkenal bagi wisatawan mancanegara yang belum sempat kami kunjungi.

ikut antri di Bouillon Pigalle

Setelah dari Montmatre, kami tutup perjalanan kami makan malam di sebuah restaurant yang katanya terkenal di Paris yaitu BOUILLON PIGALLE yang kebetulan lokasinya tidak jauh dari Montmartre.


Kami harus masuk antrian cukup panjang untuk bisa dapat duduk di restauran ini. Setelah antrian beres barulah tiba giliran kami diantar ke meja makan kami oleh waiter yang ramah.  Boullion yang artinya kaldu rupanya mempunyai sejarah yang panjang di dunia kuliner. 
Dari sebuah ulasan ada tulisan seperti ini:

Ceritanya dimulai pada tahun 1855, ketika seorang tukang daging asal Paris, Pierre Louis Duval, menyajikan hidangan dasar kaldu, atau kaldu dengan sepotong daging di dalamnya, kepada pekerja lokal di pasar sebagai makanan yang murah namun lezat. Ide tersebut memberi jalan bagi kategori restoran baru yang disebut bouillons, yang menyajikan hidangan Prancis yang sudah dikenal seperti daun bawang vinaigrette, beef bourguignon, escargot, pot a feu, dan creme karamel dengan harga terjangkau.


Bouillon menjadi pemandangan umum di hampir setiap wilayah di Paris, dan pada akhir tahun 1800-an, terdapat lebih dari 250 di antaranya yang melayani masyarakat. Interiornya berupa ruang makan besar dan terbuka yang melayani ratusan pengunjung sekaligus dengan perputaran cepat, mirip dengan kafetaria di AS pada periode waktu yang sama. 



Namun pada tahun 1980-an, kaldu hampir punah, dan banyak di antaranya yang tutup karena tren kuliner baru di Prancis, terutama masakan nouvelle, yang menganggap lebih sedikit makanan berarti lebih banyak.



Dalam dunia fesyen dan juga makanan, apa yang baru adalah sesuatu yang lama, dan apa yang lama adalah sesuatu yang baru; Boullion atau kaldu telah kembali populer dalam beberapa tahun ini dan diolah menjadi makanan enak dengan harga terjangkau.

Bon appétit

Sampai jumpa di cerita perjalanan berikutnya..

Follow kami di JEJAK BEN

Jangan lupa SHARE, LIKE COMMENT ya

Merci

au revoir



Selasa, Maret 31, 2020

Garut, Jawa Barat

Rehat Sesaat di Swiss Van Java 

By: Benediktus Beben

Desa Adat Kampung Naga

Desember 2019, saat dunia belum terpapar Covid 19, saat belum ada Lockdown...
Kami dan sebagian dari keluarga besar, memutuskan untuk jalan-jalan ke kota Garut, beberapa hari sebelum pulang kampung untuk liburan Natal.

Pondok Tempayan

Sesungguhnya keinginan buat jalan-jalan bareng dengan keluarga besar sangat kuat, tapi  hanya sebatas wacana dan belum terealisir karena beberapa alasan.. Akhirnya secara spontan kita pilih piknik ke kota tetangga saja yang dekat dan elok.. Garut.


Kita berangkat di hari Sabtu sore tgl. 21 Desember 2019 karena jarak Bandung Garut hanya 1,5 jam perjalanan dengan berkendaraan Kami bertemu di penginapan Pondok Tempayan Cipanas yang asri yang beralamat di Jl. Cipanas Baru No.133, Pananjung, Kec. Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, Jawa Barat 44151.


Terima kasih Pak Endar dan team dari Pondok Tempayan yang sudah menyiapkan tempat buat kami menginap.

Pondok Tempayan

Seru pisan saat berkumpul di Ruang makan.. ada yang masak, ada yang ngemil saja (saha tah?? haha) ada yang ngahuleng ada yang bagi-bagi kamar ..pokonya seneng banget bisa kumpul seperti ini.. kebayang kalau lebih banyak yang bisa gabung.. makin heboh sigana nya..

Ngintip senja..
Setelah cukup makan dengan segala bekal yang ada, kami jalan menuju 'Tirta Gangga' sebuah tempat pemandian Air Panas yang sudah cukup lama dan terkenal di Cipanas.
Tempat ini sebenarnya sudah tidak asing karena sudah pernah beberapa kali ke sini dengan Almarhum orang tua kami dan beberapa saudara kami. Sesampainya di sini anak-anak dan ortu yang mau ngaruru langsung nyebur ke kolam.. wow serunya berendam di air panas di cuaca yang dingin.

Berendam Air hangat
Pemandian air panas Cipanas ini berupa kolam pemandian terbuka dengan air kolam yang bersih berasal dari mata air dengan kualitas air yang jernih, rasa yang tawar dan bau air yang normal. Wisatawan yang datang berkunjung tidak hanya berasal dari Garut tapi banyak juga dari luar kota seperti Bandung dan  Jakarta.


Walaupun Garut tergolong kota kecil dengan luas hanya ‎3.065,19 km2, namun mempunyai potensi wisata yang cukup besar untuk lebih dikembangkan lagi. Kalau berkunjung ke kota Garut, banyak oleh-oleh yang bisa dibawa pulang.

Kampung Naga dari atas bukit
Yang terkenal tentu saja Dodol Garut, siapa yang tidak kenal dengan oleh-oleh yang satu ini sampai Garut dijuluki kota Dodol. Selain itu ada juga cemilan kripik, rengginang, renggining, coklat cokodot dan banyak lagi macamnya.


Jangan lupa beli berbagai macam kerajinan tangan dan juga tas atau jaket dari kulit domba.. Nah Garut juga dikenal dengan kota Domba karena terkenal domba nya yang berkualitas bagus.


Dan hebatnya lagi, selain julukan di atas, dari jaman baheula ternyata Garut sudah punya julukan lain yaitu "Mooi Garoet atau Garoet Mooi", adalah ungkapan kekaguman, seperti halnya Mooi Indie. Apa yang patut dikagumi dari Garut ?.


Mooi Garoet berarti Garut yang Elok. Ini adalah pujian klasik zaman kolonial pada keindahan alam tanah jajahannya. Bukan hanya karena tanahnya yang subur, tetapi juga pada panoramanya yang indah. Garut, merupakan salah satu daerah yang dianggap layak untuk menadapat pujian itu.


Selain itu Garut dijuluki 'Swiss van Java’ atau Swissnya Jawa dan mulai popular sekitar awal abad ke-20. Saat itu, Garut dikenal sebagai tujuan wisata yang paling menarik di dunia. Garut juga memiliki panorama alam yang keindahannya tak kalah mengagumkan.


Pemandangan pegunungan terhampar luas di Garut. Udaranya sejuk, serta suasana kota yang asri semakin menambah kenyamanan Kota ini. Garut yang permai, digambarkan dalam Encyclopedie van Nederlands-Indie (Ensiklopedia Hindia-Belanda) terbitan tahun 1917.



Hamparan pegunungannya yang sangat indah, diibaratkan seperti pegunungan Alpen yang menguasai sebagian besar wilayah Swiss. Ditambah dengan cuaca Garut yang sejuk dan dingin dimalam hari, menjadikan Garut memang mirip dengan Swiss.


Belum lagi dengan keramah-tamahan penduduknya. Bukan hal yang berlebihan jika Garut memang diibaratkan sebagai Swiss-nya Pulau Jawa.


Selain itu banyak julukan lain untuk kota Garut.. Garut Kota Intan, Garut kota Gurilap, Garut kota Pangirutan ( kepincut) yang menunjukan bahwa Garut sangat indah dan terkenal di masa lalu sampai masa kini.. Hebat pisan Garut euy..


Keseruan di kolam renang masih berlanjut sampai malam, Krucil-krucil Gangga, Tata, Kekey dan si cubby Kal tak kalah serunya sama Tekay, Puput dan Orin juga Oma dan opa nya wkwkwk...
Setelah puas berendam kita pulang ke Pondok tempayan melewatkan malam di kamar yang nyaman...


Malam ini kami bisa istirahat di Cipanas yang dingin dan tidur pulas sampai terbangun keesokan harinya.. Setelah sarapan rencana kami hari ini pergi ke Gereja mengikuti Misa Minggu.


Atas saran dan masukan dari Bu Tita, setelah selesai Misa, kita akan belajar kearifan ke sebuah desa tradisional yang terkenal juga di perbatasan antara Garut dan Tasikmalaya yaitu Kampung Naga..


Pukul 7.30 ada jadwal Misa minggu di Paroki 'Santa Perawan Maria Yang Terkandung Tak Bernoda' Garut atau Paroki Samarga. Jadi kami bergegas pergi meninggalkan pondok tempayan yang nyaman dan sekalian pamit kepada pengurus di sana.


Tiba di Gereja, misa sudah dimulai jadi kita dapat diskon sedikitlah.. karena di bawah penuh jadi kita ikut misa dari balkon gereja.


Gereja Garut hanya kecil saja tapi gerejanya cukup unik dan bagus, menyatu dengan pastoran dan komplek sekolah Yos sudarso.


Selesai misa, kami berdoa di Bunda Maria dan bertemu dengan teman-teman lama yang kami kenal.. ini ajang nostalgia buat ibu Kristine yang sudah pernah lama tinggal di Garut karena pernah mengajar di kota ini beberapa tahun yang lalu..


Selamat bernostalgia ...tak lupa jajan-jajan cemilan di pedagang yang ada di halaman gereja ya..


Sekitar pukul 10.00 kami berangkat lagi menuju Kampung Naga yang bisa ditempuh sekitar 1 atau 2 jam dari kota Garut. Karena kita belum makan siang jadi kita stop dulu di sebuah Rumah Makan 'Megawati'.. makanannya enak-enak juga di sini..ada ayam goreng dan semur jengkol yang nikmat..


Setelah menikmati makan siang, kami melanjutkan perjalanan menuju Kampung Naga dan tiba 30 menit kemudian di pintu masuk kampung ini.


Saya sering mendengar Kampung Naga ini tapi belum pernah kesampean ke sini, jadi sangat antusias bisa berkunjung ke sini dan bergegas jalan dengan dipandu oleh seorang pemandu lokal warga Kampung Naga bernama Pak Sarya...

Pak Sarya guide lokal kampung naga
Kami memasuki Gerbang desa dan berjalan turun ke lembah dengan pemandangan yang indah, bukit dan pesawahan yang hijau sungguh memanjakan mata dan mencerahkan pikiran yang ruwet.. cling.. serasa dibersihkan nih otak melihat keindahannya..


Tak habis2nya mengabadikannya dalam jepretan kamera dan camera handphone.. pemandangan desa yang jarang kami tenui lagi setelah tinggal di kota besar.. Jadi ingat kampung halama di masa kecil...


Kaki terus melangkah menuruni jalan setapak..mata jelalatan memandang jauh pemandangan yang indah dan hijaunya bukit dan sawah. Di perjalanan, kami berpapasan dengan beberapa pengunjung Kampung Naga yang ngos-ngosan naik ke arah pulang. Semangat ibu bapak...


Ada seorang pelukis yang sedang menjajakan lukisan buatannya di pinggir jalan.. lukisan dari cat yang bagus bertema pemandangan kampung naga.. pinteran ngelukisnya ya si Bapak ini...Saat pulang kami beli lukisannya pak buat kenang-kenangan..


Jalanan turun berakhir di jalan yang rata, melewati sawah-sawah yang sedang di garap. Suara kodok bersahut-sahutan diiringi gemercik air dari pematang sawah.


Di sebelah kanan ada sebuah sungai besar dan airnya jernih mengalir halus terdengar.. indahnya..


Dari kejauhan sudah tampak rumah-rumah tradisional beratap ijuk hitam tersusun rapi dari lembah sampai ke bukit...


Kami memasuki desa ini melewati kolam-kolam ikan dan tempat mandi dengan pancuran bambu yang jernih airnya..


Ada lumbung padi dan tempat numbuk padi yang masih kuno tetapi masih dipakai sampai saat ini. Wah spot yang bagus nih buat foto-foto cantik.. nah ini hasilnya wkwk..


Lihat tempat numbuk padi seperti ini kembali ingat masa kecil di kampung kami.. Waktu saya kecil, twmpat numbuk padi masih banyak ditemui biasanya dari hasil panen di sawah langsung ditumbuk rame rame di balai desa.


Dan saat ini di desa kami peralatan seperti ini masih dipakai pada saat upacara adat Seren Taun.. mungkin juga ada beberapa desa adat di Jawa Barat yang masih menggunakannya sampai sekarang.


Kami terus berjalan melewati rumah-rumah penduduk yang sama bentuk dan ukurannya.. rumah panggung dari kayu, beratapkan ijuk dan beralas tikar..


Sangat sederhana dan asri.. menyejukan.. dengan warganya yang sangat ramah mengajak mampir.


Ibu-ibu di sini rata-rata petani, pedagang dan pengrajin anyaman dari bambu. Intinya mereka memelihara alam dan mengelola hasilnya untuk kehidupan.. kearifan lokal yang sudah mulai pudar  dan perlu dilestarikan.


Pak Sarya guide kami, mengajak kami mampir ke rumahnya yang asri.. Kami masuk dari pintu dapur dengan isi dapur yang masih tradisional alias kuno buat anak-anak milenial.


Ada perapian, hawu atau tungku terbuat dari tanah beserta kayu bakarnya (pengganti kompor di jaman sekarang) dan peralatan dapur yang jadul.. duh jadi ingat lagi dapur jaman dulu di rumah mimih saat masa kecil dulu..


Dari dapur, kami dipersilakan masuk ke ruang tamu, duduk beralaskan tikar dan disuguhi minuman teh hangat dan wajit yang manis..


Terima kasih Pak sarya sudah boleh mampir di rumahmu yang asri dan menenangkan. Saat kami berkunjung kebetulan istri dan anak-anak pak Sarya sedang bekerja jadi kami tidak sempat kenalan ya..


Dari rumah Pak Sarya, kami meneruskan jalan kaki keliling kampung dan melewati sebuah lapangan dengan sebuah mesjid Kampung Naga yang terbuat dari Kayu dan masih tampak kokoh..


Dari beberapa catatan sejarah, Kampung Naga merupakan sebuah kampung adat yang masih lestari. Masyarakatnya masih memegang adat tradisi nenek moyang mereka. Mereka menolak intervensi dari pihak luar jika hal itu mencampuri dan merusak kelestarian kampung tersebut.


Namun, asal mula kampung ini sendiri tidak memiliki titik terang. Tak ada kejelasan sejarah, kapan dan siapa pendiri serta apa yang melatarbelakangi terbentuknya kampung dengan budaya yang masih kuat ini. Warga kampung Naga sendiri menyebut sejarah kampungnya dengan istilah "Pareum Obor".


Pareum jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, yaitu mati, gelap. Dan obor itu sendiri berarti penerangan, cahaya, lampu. Jika diterjemahkan secara singkat yaitu, Matinya penerangan. Hal ini berkaitan dengan sejarah kampung naga itu sendiri.


Mereka tidak mengetahui asal usul kampungnya. Masyarakat kampung naga menceritakan bahwa hal ini disebabkan oleh terbakarnya arsip/sejarah mereka pada saat pembakaran kampung naga oleh Organisasi DI/TII Kartosoewiryo. Pada saat itu, DI/TII menginginkan terciptanya negara Islam di Indonesia.

Kampung Naga yang saat itu lebih mendukung Soekarno dan kurang simpatik dengan niat Organisasi tersebut. Oleh karena itu, DI/TII yang tidak mendapatkan simpati warga Kampung Naga membumihanguskan perkampungan tersebut pada tahun 1956.


Kampung Naga dipimpin oleh satu lembaga adat yang terdiri dari tiga tokoh adat, yaitu kuncen, lebe adat, dan punduh adat, yang dijabat secara turun-temurun dan tidak dipilih oleh warga.
Kuncen bertugas sebagai pemangku dan pemimpin upacara adat.


Lebe mempunyai tugas membantu pihak yang meninggal, dari memandikan sampai menguburkan, kemudian punduh mempunyai tugas sebagai penyebar informasi ke masyarakat.


Penghuni atau kaum Naga yang tinggal di desa adat tersebut sebanyak 300 orang dari 101 kepala keluarga. Terdapat 113 bangunan yang terdiri dari 110 rumah (101 dihuni dan 9 rumah kosong) dan tiga bangunan sarana umum yaitu masjid, balai pertemuan, dan lumbung padi.


Sekitar 97 persen warga asli Kampung Naga sudah bertempat tinggal di luar desa. Warga kampung naga di luar disebut dengan istilah "sanaga" atau satu keturunan Kampung Naga. Warga Kampung Naga sudah menyebar terutama di tiga kecamatan, yaitu Slawu, Puspahiyang, dan Cigalontang.


Keturunan Kampung Naga yang tinggal di luar disesuaikan dengan kondisi luar, artinya boleh memakai rumah permanen dan listrik, namun tetap mengikuti upacara adat setahun enam kali, terutama setiap hari besar Islam.


Agama Islam sendiri diperkirakan masuk ke Kampung Naga pada abad XIV. Sebuah masjid didirikan di sebelah timur lapangan sentral atau semacam alun-alun di kampung tersebut.


Salah satu hal yang unik di Kampung Naga adalah dikaitkannya hari raya umat Islam dengan larangan adat yang berlaku di desa tersebut. Terdapat tiga hari larangan mengadakan kegiatan adat, yaitu pada Selasa, Rabu, dan Sabtu. Pada hari-hari tersebut, Kampung Naga tidak boleh melakukan kegiatan adat.


Namun, larangan tersebut ditoleransi ketika penduduk Kampung Naga merayakan Idul Fitri. Misalnya Lebaran jatuh pada Selasa, maka salat Id tetap dilakukan pada Selasa, namun upacara adat hajat masih dilaksanakan pada Kamis.
Apabila Lebaran jatuh pada hari yang bukan termasuk larangan, maka akan dilangsungkan upacara adat langsung setelah salat Id.


Ternyata kita banyak belajar dari kearifan Kampung Naga yang sederhana kehidupannya.. di tengah-tengah kehidupan yang serba modern, kita sekali-sekali bolehlah berkunjung ke sana untuk belajar tentang kehidupan...


Hari menjelang sore dan kamipun berpamitan pada kampung Naga dan alam sekitarnya yang telah memberikan kedamaian, memeberikan pelajaran yang sangat berharga..