Translate

Tampilkan postingan dengan label new zealand trip. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label new zealand trip. Tampilkan semua postingan

Jumat, Juli 22, 2016

Queenstown, South New Zealand

Queenstown, Kota indah di Tepi Danau Wakatipu 

 By: Benediktus Beben

Salah satu kota yang kami singgahi di New Zealand adalah Queenstown.

Kami terpesona dengan keindahan kota ini karena kota ini merupakan  kota wisata dan kota terbesar di wilayah Otago di bagian barat daya Pulau Selatan, New Zealand.

Kota ini bertetangga dengan kota - Kota kecil lainnya seperti Arrowtown, Wanaka, Alexandra, and Cromwell.

Letak kota Queenstown berada di tepi Danau Wakatipu yang airnya sebening kristal, dikelilingi bukit dan pegunungan yang membuat suasana kota ini berhawa sejuk dan segar. Bentangan alam, danau dan gunung menjadikannya cocok untuk segala jenis petualangan. 
Port Queenstown
Ada aktivitas bermain ski di musim dingin dan aktivitas seperti bungy jumping, terjun payung, berayun di ngarai (canyon swinging), naik perahu jet, wisata berkuda,dan arung jeram di sungai sepanjang tahun. Apabila petualangan ekstrim bukan favorit Anda, ada banyak pilihan ringan yang tersedia. Nikmatilah salah satu dari banyak jalur berjalan kaki dan  lintas alam, tur tamasya atau manjakan diri Anda dengan perawatan spa, belanja di butik, dan makanan serta anggur terbaik.
Sudut kota


Jika Anda penggemar Lord of the Rings, Anda akan mengenali banyak lokasi Middle-earth di sini. 
Dua puluh menit dari Queenstown, sejarah tambang emas Arrowtown begitu hidup dan sibuk. Kunjungi Lakes District Museum atau datangi tempat pendulangan emas. Empat puluh menit dari Queenstown, di ujung paling utara Lake Wakatipu, terdapat pedesaan Glenorchy dan Paradise Valley. 
Dari sini, berkendaralah sejenak ke Mt Aspiring National Park dan titik awal dari beberapa tempat berjalan yang luar biasa di New Zealand.

Pagi yang cerah,.. setelah sarapan, kami berangkat dari 180 Kent St Kingston tempat kami menginap menuju kota Queenstown. Suasana pagi ini sungguh cerah dengan pemandangan indah yang terbentang disepanjang perjalanan, menambah keceriaan kami. 
setelah berpetualang di shotover jet
Bukit bukit hijau dengan awan putih berarakan di langit yang cerah, udara segar dan kawanan domba dan sapi yang sedang merumput adalah sebagian besar pemandangan yang sungguh kami nikmati.


Mejeng di Devils Staircase
Menuju arah Queenstown, kami berkendara di sepanjang tepi danau Wakatipu yang luas. 
Ada kelokan bernama Devils Staircase dimana kita bisa memandang danau ini sambil berfoto.

Kelokan ini lumayan tajam sehingga harus hati hati menjaga kecepatan kendaraan. 
Di sebelah kanan jalan adalah dinding bukit bukit batu yang tampak kokoh, sementara sebelah kiri adalah Danau Wakatipu yang sangat luas. 
Saya jadi ingat adegan di film Lord of the Ring yang sangat terkenal itu ketika memandang keindahan danau Wakatipu.  
Sebelum singgah di keramaian kota, ada  satu tempat yang sangat menarik minat kami untuk singgah. 
Satu wahana permainan arung jeram dengan motor boat di sungai bernama Shotover Jet.Karena penasaran, kami ikut antre untuk membeli tiket.
Devils Staircase
Rupanya banyak juga turis yang tertarik dengan petualangan ini. Sungai nya sungguh indah berair bening kebiruan dengan beberapa motor boat berwarna merah sedang beraksi di sungai ini. 
Shotover Jet
Akhirnya giliran kami untuk memulai petualangan. Driver kami bernama Joseph, masih muda dan ganteng. Dia membawa kami ber 12 orang berpetualang dengan kecepatan yang prima mengarungi sungai dengan batu batuan tajam di pinggir boat kami... seruuu dan menegangkan.
Shotover Jet
Setelah sedikit berpetualang dengan shotover Jet, kami singgah di tengah kota untuk sekalian makan siang. Jalan jalan di taman kota di pinggir danau, tiduran di rumput hijau mengejar burung burung camar yang ada di sekitar geladak kapal adalah hal yang menyenangkan. 
kecapean di taman kota
Minus 5 Ice Bar
Cheeerrrs
Kota Queenstown di tepi danau
Port Queenstown
Add caption
Sore harinya kami mampir di minus 5 ice Bar, sebuah wine bar dengan suhu -5 derajat celcius. Dengan dilengkapi jaket tebal, kami memasuki dinginnya Bar eksotik ini.. minum wine dengan gelas dari es batu, sambil duduk di bangku es meja, joget joget kaya orang mabuk.. hmm pengalaman yang berbeda..

Selebihnya, kami sangat terkesan berwisata di kota Queenstown yang sangat indah ini. bermimpi untuk tingggal di kota ini merupakan khayalan yang menyenangkan ...

Sabtu, Maret 12, 2016

Auckland, North New Zealand

Perjalanan Terakhir Sang Sahabat


Auckland
Auckland adalah kota Metropolitan terbesar di Selandia Baru. Penduduknya berjumlah 1.354.900 jiwa. Auckland yang dalam bahasa Maori disebut Tamaki Makau Rau, terletak di Pulau utara Selandia baru.

Menurut sejarah, Penghuni awal dari kota ini adalah pelaut Maori, mereka datang sekitar tahun 1350, kemudian disusul oleh orang-orang dari kepulauan polinesia.

Mereka membangun desa-desa di sekitar gunung berapi yang memiliki tanah yang subur. Penduduk Maori di daerah tersebut diperkirakan mencapai sekitar 20.000 orang sebelum kedatangan orang Eropa.

Peperangan antar suku Maori menyebabkan wilayah ini memiliki jumlah yang relatif rendah orang Maorinya ketika orang Eropa datang dan mendirikan pemukiman di wilayah ini.

Pada tanggal 27 Januari 1832, Joseph Brooks Weller, anak tertua dari Weller bersaudara dari Otago dan Sydney Australia, membeli tanah yang sekarang menjadi situs modern kota Auckland dari "Cohi Rangatira".

Setelah penandatanganan Perjanjian Waitangi pada bulan Februari 1840, Gubernur pertama Selandia Baru, Kapten William Hobson, memilih daerah ini sebagai ibu kota baru, dan mengambil nama "Auckland" sebagai penghormatan kepada pelindung dan mantan komandannya George Eden, Earl of Auckland, yang pada saat itu menjadi Viceroy of India. 

Tanah tempat Auckland didirkan merupakan hadiah kepada Gubernur tersebut oleh suku lokal Maori Ngati Whatua, sebagai tanda goodwill dan dengan harapan bahwa pembangunan kota akan menarik peluang dagang dan politik untuk suku tersebut.

Auckland secara resmi dinyatakan sebagai ibu kota Selandia Baru pada tahun 1841, namun pada tahun 1865, ibu kota Selandia Baru dipindahkan ke Wellington.

Kami trip ke Auckland pada bulan Maret 2016. Perjalanan di kota Auckland yang terletak di Utara sedikit berbeda dengan NZ selatan. Di Utara tampak lebih padat perumahan penduduknya. Pemandangan bukit dan lembah dengan domba dan sapinya sudah mulai berkurang tapi tetap indah dan alami. Kami tinggal dan menginap Selama 2 hari di Auckland dan tidak banyak tempat yang bisa kami kunjungi karena berniat agak santai di rumah teman kami. 

Kami hanya mengunjungi auckland Tower sebagai salah satu Icon kota, ke supermarket dan tempat belanja di tengah kota membeli beberapa cendera mata dan sempat juga ke gereja di hari minggu. Gereja St. Paul umatnya banyak orang Samoa, Fiji dan pulau pulau kecil di sekitar NZ sehingga nuansa etnis sangat terasa ketika misa berlangsung.
St. patrick's Cathedral

Selama tinggal  di rumah, kami isi dengan kegiatan santai seperti memasak. Terus terang ketika di supermarket kami tertarik untuk membeli daging segar dari peternakan NZ yang sangat terkenal dan memasaknya di rumah. Daging sapi, domba, ayam dan lain lain tampak masih segar. Dan setelah diolah menjadi masakan, memang rasa daging nya luar biasa enak... saya pikir mungkin karena ternak2 itu hidup alami berkeliaran di padang2 rumput hijau dengan bebasnya...

jadi tukang potong pohon ..
Kegiatan lainnya adalah membantu teman kami memotong pohon di samping dan belakang rumah.. seru juga jadi pemotong pohon di NZ. katanya kalau kita panggil tukang bayarannya sangat mahal.. hmm... Dengan perlengkapan  ala tukang tebang pohon profesional.. dengan topi, kacamata, sepatu dan mesin pemotong, kami beraksi bahu membahu menebang pohon yang sudah condong ke rumah tetangga. Menyenangkan juga sampai kebun rumah keliatan lebih rapi dan bersih. 

Banyak burung burung aneka jenis dengan suara merdu di pohon di belakang rumah. Saya tidak tahu namanya tetapi yang jelas burung burung itu bebas bermain di sana. Katanya di NZ tidak ada ular dan binatang buas lainnya kebanyakan aneka jenis burung yang hidup di sana diantaranya burung Kiwi yang sangat terkenal, burung Pokeko dan banyak lagi.

Kami merasa senang selama tinggal di rumah sahabat kami di Auckland dan merasakan perjalanan yang sangat mengesankan mengitari NZ dari selatan sampai utara.Terima kasih sahabatku di Auckland yang sudah memberi tumpangan buat kami . God Bless you always.
Pengalaman dalam perjalanan di New zealand ternyata menjadi perjalanan terakhir bersama sahabat kami Oyong yang telah berpulang ke Rumah Bapa di Surga di bln Oktober 2016 atau sekitar 6 bulan setelah perjalanan kami bersamanya. Walau merasa kehilangan, Kami bahagia bisa mengantar dia bertemu dengan saudara sepupunya di Auckland dan meninggalkan kenangan manis dan persahabatan. Selamat jalan sahabat.. Bahagia di Rumah Bapa..




Jumat, Maret 11, 2016

Rotorua , North New Zealand


 Aroma Belerang di kota Wisata Rotorua

By: Benediktus Beben

Wai O Tapu, Rotorua
Dalam perjalanan ke Utara NZ, kami mampir di kota yang unik bernama Rotorua untuk bermalam di sana.  

Aroma belerang yang tercium samar-samar di udara dan desis uap adalah ciri-ciri utama ketika memasuki kota ini.. Hal ini terjadi karena Rotorua terkenal dengan aktivitas geotermalnya.

Menurut informasi dari berbagai sumber, Rotorua adalah sebuah kota di tepi selatan Danau Rotorua di region Bay of Plenty di Pulau Utara Selandia Baru.

Terletak 60 km di selatan Tauranga, 105 km di tenggara Hamilton dan 82 km di timur laut Taupo. Distrik ini terbagi antara Bay of Plenty (61.52 persen wilayahnya) dan Waikato (38.38 persen).
Wai O Tapu
Pinggiran Rotorua adalah Ngongotaha, Fairy Springs, Selwyn Heights, Kawaha Point, Western Heights, Pukehangi, Pleasant Heights, Mangakakahi, Sunnybrook, Pomare, Utuhina, Ohinemutu, Koutu, Hillcrest, Matipo Heights, Glenholme, Fordlands, Springfield, Rotorua West, Fenton Park, Whakarewarewa, Waipa Village, Tihiotanga, Ngapuna, Lynmore, Te Ngae, Owhata, Hannahs Bay, Holdens Bay dan Rotokawa.

Selain Geotermal, terdapat juga sejumlah geyser, yang terkenal antara lain geyser Pohutu di Whakarewarewa, dan kolam lumpur panas yang berasal dari kaldera.  Karena keunikannya ini, Rotorua pernah  memenangkan "Penghargaan Kota Terindah di Selandia Baru" tahun 2002 dan 2006.

Rotorua adalah bagian dari Volcanic Zone, lahan geotermal yang membentang dari White Island di lepas pesisir Bay of Plenty hingga Mount Ruapehu di pusat North Island.       
melepas lelah di saung Wai o Tapu

Di Whakarewarewa - The Living Thermal Village, penduduknya telah berperan sebagai tuan rumah dan akan menyambut pengunjung ke rumah dan pekarangan belakang mereka sejak era 1800-an, sambil mendemonstrasikan penggunaan keajaiban geotermal alami untuk memasak, mandi, dan kehidupan sehari-hari. Rotorua memiliki sejarah yang kaya, dengan warisan kota ini yang terlihat di segala penjuru.

Danau belerang
Government Gardens yang cantik di Rotorua merupakan area Waahi Tapu dan keramat bagi suku Maori, karena memiliki sejarah luar biasa sebagai medan perang dan lahan pemakaman.
   
Menawarkan kehangatan sambutan dan keramahtamahan yang tulus (manaakitanga) adalah hal yang selalu disajikan oleh suku Te Arawa Maori kepada pengunjung di kawasan Rotorua selama lebih dari 150 tahun.

di sudut kebun binatang khas NZ
Kami tiba di sebuah penginapan yang Asri di sebuah sudut jalan di kota Rotorua. Ketika memasuki pekarangan Hotel kecil ini tampak sebuah kolam beruap panas di pinggir halaman menandakan ciri khas kota Rotorua dengan termalnya. 

Setelah membereskan barang- barang di dalam kamar hotel, saya sempat merasakan sensasi berendam di kamar berendam yang disediakan hotel sebagai fasilitas untuk tamunya. Aroma belerang yang lembut dan air hangat serasa memijit badan saya yang letih sehabis perjalanan.
Lady Knox Geyser

Di kota Rotorua inilah kami menemui banyak suku Maori tinggal. Orang Maori dengan postur tubuh tinggi besar, berambut ikan dan berkulit coklat kegelapan merupakan suku asli New Zealand. 

Kalau anda ingin mengenal lebih jauh suku Maori, berkelanalah ke masa lalu di desa Maori. Anda akan memperoleh gambaran jelas tentang gaya hidup dan tradisi Maori - dengan nyanyian, tarian, dan jamuan makan bernama hangi  ( cara masak tradisional suku Maori yang memasak makanan  di atas batu panas).

Keesokan harinya kami berkunjung ke Waitomo Glow worm Caves dimana terdapat gua yang unik.

Yang membuat unik gua gua ini bukan hanya stalagtit dan stalagmit nya saja tapi penghuninya.

Devil's Bath
Di dalam kesunyian dan kegelapan gua gua ini disepanjang dinding langit- langit gua, hidup ribuan cacing yang memancarkan cahaya terang seperti rangkaian bintang bintang di langit. Kami dibawa dengan perahu menyusuri gua ini. Dalam keheningan hanya ditemani bunyi cipratan air dari dayung perahu, kami memandang ke langit langit gua, mengagumi ribuan bahkan jutaan kerlip cahaya yang berasal dari cacing cacing yang hanya hidup di Gua ini.

Maori Village
Tempat lain yang kami kunjungi yaitu pusat termal bernama Wai O Tapu. Banyak letupan belerang yang bisa kami lihat di sini. Masuk ke dalam area ini, tampak banyak sekali turis yang duduk di bangku arena seperti sedang menunggu suatu pertunjukan yang akan segera dimulai. Kami pun penasaran duduk di antara kerumunan turis dengan kamera di tangan untuk membidik atraksi apa yang akan terjadi. Setelah sekian lama menunggu... woww amazing.. semburan geyser yang sangat tinggi menyembur ke angkasa.. inilah Lady Knox Geyser yang menyembur tiap hari dan menjadi pertunjukan yang dinanti para turis.
menanti atraksi semburan geyser

Semakin jauh berjalan, kami menemukan Warna-warni cemerlang dari danau-danau belerang yang sungguh indah dan bararomakan belerang yang merupakan ciri khas Artists Palette and Champagne Pool Wai-O-Tapu Thermal Wonderland. Ada danau berwarna hijau cerah , Orange, putih kehijau hijauan yang semuanya sungguh indah di pandang mata. Kami berjalan cukup jauh untuk menikmati alam yang indah ini.. dikelilingi pepohonan hijau dan angin semilir, aroma belerang yang lembut dan warna warni danau belerang yang indah, sungguh pengalaman tak terlupakan.
Glow worm caves




Kamis, Maret 10, 2016

Wellington, North New Zealand

Angin Kencang di kota Angin...



Wellington
Dari pelabuhan kota Picton di selatan NZ, kami naik kapal Ferry untuk menyeberang ke Utara menuju pelabuhan kota Wellington. Perjalanan ditempuh sekitar 2 jam. 

Kapal Ferry yang kami tumpangi sangat bagus dan bersih. Banyak sofa dan tempat nongkrong sambil minum secangkir kopi dengan santai. Kami tiba di kota Wellington hampir pukul 10 malam.

Ada seorang teman saya yang kebetulan tinggal di kota ini dan sudah janjian untuk  bertemu. Sesampainya di hotel, kami istirahat sebentar dan pergi ke tengah kota bersama teman kami untuk sekedar  ngobrol dan sekalian makan malam.

Cuaca malam itu cerah tetapi dingin dan berangin, kami berjalan turun dari hotel ke tempat keramaian. Kehidupan malam di kota ini sekilas tampak sangat menyenangkan dan ramai. Sayangnya restaurant yang direkomendasikan teman kami sudah tutup jadi kita makan di restauran Chinese yang ada saja.


bersama teman kami, Ita
Menu makan malam nya lumayan enak. Kami sempat foto foto di keramaian malam kota ini. Sayangnya waktu kami sangat terbatas karena hari sudah menjelang tengah malam. Sambil jalan kaki pulang ke hotel, kami sempat singgah ke sebuah Bar dewasa hanya sekedar melepas rasa ingin tau... Pengalaman yang tak terlupakan. Tak terasa hari terus beranjak malam .. sambil ngobrol santai, kami menyusuri jalanan yang sepi pulang ke hotel dan berpisah dengan teman kami di persimpangan jalan. Malam yang cukup melelahkan sehingga tidur di hotel yang cukup bagus ini membuat kami terlelap sampai pagi...

Pelabuhan kota Picton
Kota Wellington terkenal dengan sebutan "Windy Wellington" .. kami baru percaya ketika jalan jalan esok harinya di kota ini. Angin kencang menerpa kami sampai mau terbang terbawa angin rasanya. Brrr....  anginnya sungguh luar biasa. Kami menyusuri pelabuhan kota untuk mendapatkan lokasi dimana ada bukit bertuliskan 'wellington' untuk berfoto sebagai bukti kita pernah singgah di kota ini. Holaaa  ...setelah mengitari pantai sekian lama, akhirnya tampak di kejauhan tulisan kota wellington di atas sebuah dinding bukit. Lagi lagi angin bertiup kencang sampai perlu sedikit perjuangan untuk mengambil foto dengan baik.. hasilnya ya... begitulah.. foto dengan rambut acak acakan diterpa angin wellington...
Gereja tua St. Paul

Sebelum melanjutkan perjalanan, kami singgah di salah satu gereja tua bernama Old St. Paul yang sudah tidak digunakan lagi sebagai tempat ibadat tetapi hanya berfungsi sebagai sebuah museum dan tempat wisata saja. Gereja yang terbuat dari kayu ini sungguh menarik karena sangat bersejarah. Tetapi walaupun Gereja ini sudah tidak berfungsi sebagai tempat ibadat, masih ada umat yang datang untuk berdoa. Tempatnya sungguh asri dan nyaman dengan wangi bunga yang semebak dari pelataran altar Gereja.

Di sudut depan tampak ada stand Souvenir yang menjual benda benda rohani dan souvenir indah lainnya. Gereja ini didominasi dengan ornament kayu tua yang sangat kuat. Altar, mimbar, bangku gereja dan pintu semuanya terbuat dari kayu yang kokoh.

Selamat tinggal Windy Wellington...




Hobbiton, Matamata New Zealand

Perjalanan Menyusuri jejak Hobbit
By: Benediktus Beben

Hobbiton  wajib dikunjungi jika Anda penggemar film Lord of the Rings dan Hobbit karena di sini lah salah satu lokasi penting untuk syuting kedua film tersebut.

Dari informasi berbagai sumber, Dua jam perjalanan di selatan Auckland terhamparlah lahan pertanian Waikato  yang subur.

Terkenal sebagai penghasil susu dan kuda ras murninya yang bagus, mudah dipahami mengapa lapangan berumput dan perbukitan landai ini dipilih untuk melukiskan Hobbiton dan The Shire.

Para penggemar Hobbit dapat mengunjungi Hobbiton Movie Set bersama tur berpemandu,  untuk mengunjungi 44 liang hobbit yang unik, termasuk Bag End (rumah Bilbo).
Ticketing House, Matamata
Saat berjalan-jalan di jantung The Shire, Anda akan mendengar kisah memikat tentang pembuatannya. Di sepanjang perjalanan, Anda akan melihat Green Dragon Pub, penggilingan, jembatan lengkung ganda dan Party Tree yang terkenal.
Add caption
Kisah Bilbo Baggins di Middle Earth boleh saja berakhir. Namun tidak demikian dengan Hobbitton, desa mungil nan asri tempat ia tinggal.
Lagoon
Anda sebagai penggemar film nya pasti tahu kisah Trilogi The Lord of The Rings dan The Hobbit yang menjadi salah satu film box office terlaris sepanjang sejarah. Lima dari enam film dalam franchise itu menampilkan sebuah desa yang asri nan mungil seperti para penghuninya, Hobbiton. Desa itu adalah habitat para hobbit, makhluk bertubuh pendek yang hidup di Middle Earth.

Pasca muncul dalam The Return of The King (2003), desa unik ini muncul kembali pada seri pertama The Hobbit: An Unexpected Journey. Meski bukan menjadi setting utama dalam cerita, pembuatan setting satu ini punya sejarah panjang. Sutradara keenam filmnya, Peter Jackson mulanya menemukan sebuah areal pertanian di Selandia Baru melalui pantauan udara, areal ini dirasa cocok untuk menjadi set Hobbiton.

Peter dan tim produksi akhirnya menemukan daerah Matamata, North Island yang konturnya pas dengan gambaran Hobbiton di dalam novelnya. Uniknya, Hobbiton ini tak hanya dibangun untuk keperluan film saja, tetapi bisa dihuni. Sayang, saat pemutaran The Lord of The Rings: The Return of The Kings, kondisi Hobbiton sebagian sudah rusak karena desa ini dibangun dengan material semi permanen yang memang tidak tahan lama. Saat Peter memutuskan untuk membuat sekuel The Hobbit, barulah dimulai kesepakatan baru dengan Alexander Farm untuk membangun kembali Hobbiton dengan material permanen.
Shire
Proses pembangunan tersebut memerlukan waktu 2 tahun. Untuk memperlancar proses pembangunan ini, tentara-tentara New Zealand disewa untuk membuat jalan sepanjang 1,5 kilometer menuju tempat dibangunnya Hobbiton. Selain kisah tentang tentara New Zealand yang ikut berpartisipasi dalam pembangunan Hobbiton, setting The Hobbit ini menyimpan banyak cerita unik lainya.
The Guide
Pertama, di sana ada 37 lubang Hobbit yang dibuat dengan kayu utuh. Kamu bisa bayangkan rumah kecil milik para Hobbit di film, ada di dunia nyata. Rumah itu dibuat dari kayu utuh yang sulit dibayangkan besarnya seperti apa. Meski di Hobbiton ada banyak rumah-rumah Hobbit, hanya Bag End (rumah Bilbo Baggins) yang menjadi satu-satunya rumah berinterior. Oleh karenanya Bag's End diletakkan di pintu masuk. Sedangkan rumah-rumah lainnya hanya berupa ruangan kosong.

Ada juga danau asri yang menambah keindahan desa ini. Danau indah yang kini telah menjadi milik Alexander Farm pun tak kalah unik. Berbeda dengan sebagian besar lanskap yg dibangun ulang, danau ini merupakan aset alami di daerah tersebut sejak 1946. Danau tersebut menjadi tempat hidup fauna di Hobbiton. Danau ini menjadi salah satu pusat perhatian para turis. Tak hanya itu, umurnya yang sudah tua menjadikan danau itu sebagai sebuah situs bersejarah sekaligus sakral. Angsa-angsa yang berada di sekitar danau juga dianggap sebagai hewan yang dilindungi.
Green Dragon Pub
Masih banyak lagi keunikan lainnya, dan bersiaplah tercengang dengan detail pembuatan tempat ini. Demi membuat Hobbiton semirip mungkin dengan desa dalam novel, daun-daun buatan yang ada di pohon-pohon desa ini diimpor dari Taiwan. Satu per satu daun dipasangkan ke pohon yang telah mati.

Pada hari yang sudah dijadwalkan, kami mengendarai mobil menuju Matamata untuk berkunjung ke Hobbiton Movie set. Setelah memacu kendaraan dengan sedikit ngebut karena takut ketinggalan jadwal tour, sampailah kami di kota Matamata untuk membeli tiket keliling hobbiton. Tempat penjualan tiket ada di tengah kota yaitu sebuah rumah yang di design sedemikian rupa seperti rumah di Hobbiton.

Setelah menunggu beberapa lama, kami beserta tour yang lain dijemput oleh Bus menuju lokasi Hobbiton Movie set. Perjalanan menuju Hobbiton sangat indah, melewati bukit dan lembah hijau yang asri. Cuaca hari itu hangat dan matahari bersinar cerah. Dengan dipandu oleh seorang Guide yang cantik, yang bercerita tentang sejarah Hobbiton dan sekitar pembuatan film nya, kami berjalan menyusuri Hobbiton. Rumah-rumah para Hobbit dan suasana pedesaannya  yang asri sangat terasa seperti masuk ke dunia film Hobbit dan bertemu dengan para tokoh nya seperti Bilbo dan Frodo Baggins. Tapi tak satupun tokoh itu terlihat... hahaha ya lah kan itu cuma ada di film. yang kami lihat hanya desanya saja. Kami terus berjalan sambil berfoto mengabadikan kenangan indah di Hobbiton.

Selesai menyusuri Hobbiton, kami dipersilakan mampir untuk makan di sebuah Pub yang ada di sana. Suasana Pub Hobbiton sangat hangat dan asri. Ornamen dan design nya sangat kental dengan suasana Film nya. Secangkir minuman hangat dan sepotong Beef Pie yang sangat lezat menemani kami ngerumpi di Green Dragon Pub Hobbiton... Hmm masih terbayang dan terasa nikmatnya.....