Translate

Selasa, Maret 27, 2018

Larantuka, Flores

Perayaan Paskah yang mengesankan di Larantuka

By: Benediktus Beben

Semana santa, Larantuka... 
Prosesi Laut Semana Santa
Sebuah mimpi yang sudah lama terpendam untuk bisa mengikuti acara ini.

Puji Tuhan dengan segala kebaikan Tuhan melalui tangan - tangan kecilNYA, kami bisa mengikuti acara Semana Santa di tahun 2018 ini. 

Tidak sengaja kami berkenalan dengan seorang bernama Melia melalui medsos yang memberi info untuk ikut serta dengan group kecilnya untuk gabung ziarah ke Larantuka..
Inilah jalannya sehingga kami bisa sampai ke sana..
Terima kasih Melia. 

Dengan pesawat NAM Air, kami berdua terbang pada Hari Selasa tgl.27 Maret 2018 pk 06 pagi dari Bandara Husein Sastranegara Bandung. Setelah transit di Surabaya kl 3 jam, kami melanjutkan penerbangan dengan Sriwijaya air sampai ke Kupang, Flores.

Dari Kupang naik pesawat kecil NAM Air menuju Ende, karena kami harus bertemu dengan peserta lain yang terbang dari Jakarta. 

Rumah pengasingan Bung Karno di kota Ende
Kami mendarat di Bandara Ende kl pk. 15.00 dan bergabung dengan Melia dan beberapa teman dari Jakarta. Rombongan kami berjumlah 12 orang. Sebelum mengikuti Acara utama Semana Santa, kami akan singgah di rumah pengasingan Bung Karno di Ende.

Di tempat inilah lahir Pancasila 
Hari sudah menjelang sore ketika kami tiba di rumah pengasingan ini. Rumah nya tampak terawat dan di dalamnya terdapat banyak benda - benda peninggalan Bung Karno dan Ibu Inggit selama kl 4 tahun diasingkan di kota Ende. 

Tak lupa kami mengunjungi Monumen Bung Karno di Tepi pantai. Tidak jauh dari monumen ini, ada sebuah pohon bersejarah dimana Bung Karno merenung dan terciptalah dasar - dasar Pancasila yang menjadi landasan Negara kita.

Hari menjelang malam, kami harus bergegas ke Desa Moni, sebuah desa di kaki Gunung Kelimutu untuk menginap. Sebelum sampai ke sana, kami singgah di Rumah Asuh More Manggo St. Theresia Avila yang dikelola oleh seorang biarawati.

bersama anak Panti yang melayani kami
Di Rumah asuh ini kami disambut dan dilayani oleh anak - anak panti dan suster yang sangat baik.  Menu makan malam yang disedikan adalah makanan khas Flores dan sangat nikmat. Setelah makan malam, kami pamit dan melanjutkan perjalanan ke desa Moni.
Makan malam yang nikmat di Rumah asuh

Sepanjang perjalanan, kami ditemani cahaya bulan purnama yang bersinar terang dan kerlip milyaran bintang - bintang yang terasa sangat dekat.. milky way yang tidak pernah lagi kami lihat di kota kami..

Perjalanan malam ini sangat mengesankan dan kami sudah merasa sebagai 1 keluarga dengan teman teman seperjalanan kami.

Tiba di Rumah penginapan di pinggir jalan yang cukup ramai, Malam ini, kami terlelap di sebuah penginapan di desa Moni, melepas lelah dan menikmati sejuknya hawa pegunungan di kaki Kelimutu...

Pagi - pagi buta pukul 4, kami sudah bangun dan memulai pendakian ke danau Kelimutu yang sangat terkenal dengan danau 3 warna nya.
Valerie menatap asa
Jalanan tidak terlalu terjal tetapi lumayan jauh juga, kira - kira 1 jam perjalanan sampai ke tepi Danau kelimutu untuk mengagumi Sunrise.

Bu Susan in action
Kami berpapasan dengan banyak turis yang menuju ke sana. Berbekal senter, kami menyusuri jalanan yang rata dan menanjak serta melalui anak anak tangga yang sudah rapi untuk sampai ke puncak. Sepanjang perjalanan, kami selalu terpesona oleh indahnya Milky Way, taburan bintang - bintang yang berserakan di langit luas.

Lembayung sutra sudah mulai tampak di ufuk timur, celotehan orang - orang menantikan pemandangan indah sudah terdengar dari bawah bukit. Mata kami terarah ke timur, dimana semburat jingga sudah mulai berganti perak... ketika sang surya tersenyum, tampaklah di depan kami Danau kelimutu yang sangat indah... 

Ada 3 buah danau di Kelimutu, semuanya tampak elok dan eksotik. Pada saat kami datang ini, Dua buah danau tampak sejajar berbeda nuansa warna hijau dan kebiruan. satu danau lagi ada di sisi lain dan berwarna hitam.

Ada beberapa Ibu dan bapak penjual kain - kain khas Flores dan menyediakan seduhan kopi panas sambil duduk di anak tangga monumen.
Danau berair warna hitam

Turis lain tampak hilir mudik pasang aksi depan kamera..Sinar Surya semakin naik ke atas dan bersinar cerah, menyuguhkan pemandangan beragam nuansa.. Sungguh cantik negeriku Indonesia...

Setelah puas mengagumi Danau Kelimutu dan berfoto sepuasnya dengan berbagai gaya, kami pun bergegas turun untuk kembali ke penginapan.. melanjutkan perjalanan ke kota Larantuka..


Setelah mandi dan sarapan yang enak di penginapan, kami berangkat lewat kota Maumere menuju kota Larantuka. Perjalanan kami tempuh sekitar 6 jam. Siang hari kami singgah untuk makan siang di sebuah Rumah makan tepi pantai di kota Maumere sambil melepas lelah menikmati secangkir es kelapa muda yang segar..
Di sini ada 3 temen kita yang bergabung.. makin ramailah group kita.. Ziarah kami semakiny seru rasanya... 

Larantuka kota Maria..

Pemandangan dari pinggir jalan
Tibalah kami di gerbang kota Larantuka sekitar pukul 5 sore, disambut oleh sebuah Patung Bunda Maria berwarna emas. Dan beberapa  Patung Bunda Maria di beberapa sudut kota.

Larantuka disebut juga kota Reinha Rosari atau Kota Maria. Pantaslah julukan ini, karena kota Larantuka sangat menghormati Bunda Maria sebagai pelindung dan pemberi berkat.

Beberapa ruas jalan sudah mulai ditutup untuk perayaan Semana Santa sehingga kami berjalan agak berputar untuk sampai ke penginapan kami.

Diambut Oleh Reinha Rosari
Para peziarah dan warga sudah tampak larut dan sibuk untuk menyambut acara ini. Poster dan spanduk mengucapkan Selamat datang kepada para peziarah bercampur aduk dengan spanduk politik pilkada menambah semarak kota kecil ini...

Prosesi Semana Santa

Setiap tahun, sekitar satu minggu menjelang perayaan paskah, umat Katolik di Larantuka melaksanakan tradisi Semana Santa, yang telah berlangsung lebih dari lima abad, sejak bangsa Portugis menyebarkan agama Katolik dan berdagang cendana di Kepulauan Nusa Tenggara. 

Semana Santa berasal dari kata semana (pekan) dan santa (suci), yang artinya pekan suci yang dimulai dari Rabu Abu, Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci hingga Perayaan Minggu Paskah. 

Hingga kini, prosesi Semana Santa telah menjadi agenda tahunan dari pemerintah daerah Flores Timur sebagai wisata rohani dalam menarik wisatawan baik domestik maupun mancanegara. 

Rabu Trewa

Hari ini adalah hari Rabu dan kami ingin ikut acara Semana Santa mulai hari ini yang disebut Rabu Trewa. 

Pada hari Rabu yang terbelenggu (Rabu trewa), umat Katolik setempat mulai berkumpul di kapel-kapel yang ada untuk berdoa mengenang kisah pengkhianatan Yudas Iskariot terhadap Yesus di Taman Getsemani.

kegaduhan di Rabu Trewa
Yesus akhirnya ditangkap dan kemudian disalibkan oleh para serdadu Romawi. Pada saat Rabu Trewa inilah, kota Reinha Rosari Larantuka berubah menjadi kota berkabung, tenggelam dalam khidmat dan refleksi pada pemurnian jiwa menuju pentas Jumat Agung nan abadi.

Karena Rabu Trewa dimulai dari Kapela Tuan Ma, kamipun bergegas berjalan menuju kapela ini. Di Rabu malam ini, umat Katolik melakukan ritual bebunyian, sebagai simbol berduka saat Yesus dibelenggu oleh serdadu dan para algojo Yahudi lalu diseret mengelilingi Kota Nazareth setelah ditangkap Yudas Iskariot.

"Segala macam alat dipukul untuk membuat bebunyian, karena keesokan harinya (Kamis Putih) suasana kota bakal sunyi dan sepi," kata Bernard Tukan, tokoh Katolik Larantuka, seperti yang dilansir dari Antara pada Rabu (28/3).
Umat membuat kegaduhan dengan bunyi - bunyian yang memekakan telinga.. berjalan bolak balik dari kapela Tuan Ma sampai ke Kapela Tuan Ana dan berakhir di Kapela Tuan Ana untuk berdoa. Rupanya Warga Larantuka sudah mulai Berpuasa dan berdoa dari hari Senin.  Kami hanya melihat umat yang berdoa di kapela dari pelataran kapel, berdoa dalam hati sambil berjalan pulang...

Kamis Putih

Pulau Adonara
Pada hari Kamis Putih, esok harinya, Kota Larantuka akan menjadi hening dan syahdu, dimana tidak ada bunyi – bunyian apa pun atau aktivitas yang dengan tingkah kegaduhan yang tinggi.

Pulau adonara-dalam antrian panjang menuju Kapela Tuan Berdiri
Dalam Kamis Putih, akan dilakukan pemasangan tikam turo (pagar lilin) di sepanjang rute prosesi jalan salib yang akan berlangsung esok harinya. Selain itu, pada siang hari di Kamis Putih akan dilakukan upacara “Muda Tuan” yaitu upacara pembukaan peti yang telah ditutup selama satu tahun.

Peti tersebut akan dibuka oleh petugas khusus yang telah disumpah sebelumnya untuk melakukan tugas itu. Di Kapel Tuan Ma (Bunda Maria), patung Bunda Maria yang telah dimeteraikan dalam sebuah peti mati selama satu tahun penuh, harus dibuka dengan penuh hati-hati oleh petugas Conferia (sebuah badan organisasi dalam gereja) yang telah diangkat melalui sumpah.
Di Pulau adonara
Patung Bunda Maria berkeramat itu, kemudian diambil dan dimandikan oleh petugas yang ditunjuk. Setelah itu, Patung Bunda Maria pelindung Kota Reinha Rosari Larantuka itu kemudian dikenakan pakaian berkabung (selembar kain warna hitam atau ungu, atau mantel beludru biru).

Pada kamis pagi ini, kami meneyebrang ke Pulau Adonara dimana ada kapela Tuan Berdiri di desa Wure dimana para peziarah berdevosi ke Tuhan Yesus. Antrian panjang sudah tampak dari kejauhan menuju Kapela, dan kami pun bergabung di dalam antrian ini di bawah terik nya matahari yang semakin menyengat. Luar biasa kesabaran yang harus dialami oleh para peziarah ini. Kami tertahan di antrian selama kurang lebih 4 jam untuk sampai hadapan Tuhan Yesus yang berjubah merah dengan wajah penuh luka..
antrian panjang depan kapela
Kami merasa sangat terharu sampai ke tempat ini, begitu banyak orang yang dengan ikhlas dan kesabaran tinggi, berdoa dan menyembah Tuhan dan menyematkan setitik harapan akan terkabulnya doa. Ketika giliran kami tiba, kami bersujud dan berdoa mecium kaki Tuhan Yesus dengan penuh hormat  dan bersyukur bisa sampai ke tempat ini.

Hari sudah pukul 3 ketika kami selesai devosi. Kamipun menyebrang lagi dengan perahu ke Larantuka untuk makan siang dan akan ikut Misa Kamis putih di Gereja Katedral pada malam harinya. Misa kamis putih berlangsung sangat khidmat di Gereja Katedral larantuka, mengenang perjamuan malam terakhir antara Yesus dengan 12 orang muridnya sebelum dikhianati oleh Yudas Iskariot.


Prosesi Laut Jumat agung
Pagi ini, kami bangun dan sarapan lebih pagi dan bergegas menuju ke pantai karena hari ini puncak perayaan semana santa. Saya dan istri serta sebagian dari teman kami, akan mengikuti prosesi dari atas kapal dan sudah mendaftar untuk ikut prosesi dari laut. Sementara sebagian akan ikut prosesi dari darat. 
Prosesi Semana Santa saat mulai dari Kapela Tuan Menino

Setibanya di pantai, sudah banyak peziarah yang akan ikut prosesi laut, kami pun ngobrol dengan para peziarah yang datang sambil menunggu giliran naik ke kapal yang telah ditentukan.

Kapal kapal pengiring prosesi laut
Pukul 10 kamipun naik ke kapal dan berlayar ke tengah laut, makin siang makin banyak kapal yang ikut prosesi. Panas terik tidak dihiraukan. Suasana di atas kapal sungguh khidmat sambil berdoa rosario, bernyanyi dan melambungkan puji pujian.

Dari tengah laut, kami mengikuti acara prosesi Semana Santa. Dari kejauhan, tampak Rombongan kapal pembawa Tuan Menino (patung Bayi Yesus)  beriringan diikuti puluhan kapal di lautan dan ratusan peziarah di sepanjang jalan.

Mejeng dulu
Tiba tiba hujan turun dengan derasnya tetapi prosesi laut terus berjalan dan para peziarah tanpa bergeming mengikuti dengan khidmat.. 

Prosesi diawali dengan arak-arakan perahu serta puluhan bahkan ratusan kapal motor untuk mengantar Tuan Menino (Patung Yesus) dari Kapela Tuan Menino (Kota Sau) ke Kapela Pohon Sirih di Pante Kuce, depan istana raja Larantuka.

Perayaan ini memberi kesan kuat bahwa pusat ritual itu kepada Yesus Kristus karena mengalami penyiksaan yang panjang sampai wafat di salib yang disaksikan sendiri oleh Maria, ibu kandungnya (Mater Dolorosa).

Perahu Prmbawa Tuan Menino
Menurut legenda, Patung Tuan Ma ditemukan oleh seorang laki-laki di Pantai Larantuka sekitar 500 tahun yang lampau. Ia kemudian menyerahkan patung tersebut kepada Raja Larantuka.

Peserta Prosesi laut yang centil
Selama lebih dari empat abad, wilayah ini mewarisi agama Katolik yang cukup kuat di Nusantara lewat peran para misionaris, persaudaraan rasul rakyat biasa (Confreria), Suku Semana, Suku Kakang Lewo Pulo serta Suku Pou (Lema) dalam pertumbuhan agama Katolik di wilayah Larantuka.

Prosesi laut selesai, kamipun kembali ke pantai dan makan siang di Rumah makan langganan. Sore harinya, kami akan ikut Misa Jumat agung di gereja Katedral Larantuka.




Misa Jum'at agung dan Prosesi Lilin (Sesta Vera)

Tuan Ma ditakhtakan di Gereja katedral
Misa jumat Agung diawali dengan Prosesi arak arakan dimulai dari kapela Tuan Ma. Patung Tuan Ma dan Tuan Menino diarak ke Gereja Katedral untuk ditahtakan di sana. Saat Prosesi berlangsung, hujan turun sangat deras, sehingga para Pastor, dan para peziarah yang mengikuti prosesi basah kuyup.

Rela basah kuyup demi Prosesi Semana Santa
Tetapi Prosesi tetap berjalan dengan khusu dan para peziarah yang ikut prosesi, misa jumat agung dengan pakaian basah, saya dan beberapa teman kebetulan tidak ikut prosesi dan langsung menunggu di halaman Katedral sehingga pakain kami masih kering..

Misa Jumat agung berlangsung seperti biasa. mengenang wafat Tuhan dengan bacaan injil kisah sengsara Tuhan dan lagu lagu ratapan. Misa berlangsung selama 2 jam dan pukul 8 malam akan dilanjutkan dengan prosesi lilin.

Depan Katedral Larantuka seusai misa Paskah
Selesai misa Jumat agung, kami tetap bertahan di Katedral, sambil giliran makan malam supaya dapat tempat duduk di depan untuk mengikuti doa ratapan jam 7 malam sebelum prosesi lilin. Gereja Katedral seperti kebanjiran ketika kami masuk, sisa - sisa air dari para umat yang basah kuyup. Para petugas sedang berusaha membersihkannya.

Pukul 7 malam,  kami sudah duduk dan siap mengikuti acara doa ratapan. Ada nyanyian dan orasi kisah sengsara Tuhan Yesus. Suasana sangat menyedihkan. semua berjalan dengan haru. Pukul 8 Malam acara prosesi lilin akan dimulai. Umat yang akan ikut prosessi diatur supaya tertib.

Nyanyian ratapan 
Tiba saatnya kamipun bergabung di barisan prosesi. Jauh di depan kami,  cahaya lilin sudah panjang menjadi lautan cahaya. Sambil berjalan pelan, doa - doa dan lagu pujian kami haturkan untuk menemani bunda Maria dalam duka yang dalam karena kematian Puteranya.

Prosesi lilin
Arak – arakan besar mengelilingi Kota Larantuka adalah proses jalan salib untuk mengenang prosesi penyaliban Yesus Kristus yang dimulai dengan penyiksaan, perjalanan memanggul salib hingga penyaliban di Bukit Golgota.

Duduk sejenak 
Masyarakat akan melakukan arak – arakan dengan Patung Tuan Ana yang mengalami penderitaan memilkul salib, sementara Patung Tuan Ma juga ikut diarak, menggambarkan Maria yang sedang berduka melihat putranya disiksa. Dalam arak – arakan tersebut, terdapat delapan titik perhentian agung (armida) , yakni Misericordia (merenungkan janji Tuhan yang mengutus putra-Nya ke dunia), Tuan Meninu (merenungkan Kanak-kanak Yesus), Santo Philipus (merenungkan masa hidup dan karya Yesus selama di dunia), Tuan Trewa (merenungkan Yesus yang ditangkap dan diadili),

Prosesi lilin
Selanjutnya adalah Armida Mater Dolorosa (bersatu dengan Maria mengikuti Jalan Salib Yesus), Benteng Daud (merenungkan saat Yesus dijatuhi hukuman mati), Kuce (merenungkan Yesus yang telah wafat di kayu salib) dan Tuan Ana (merenungkan Yesus yang sudah diturunkan dari salib).

Di Armida ini, prosesi berarak kembali menuju Gereja Katedral sebagai akhir dan pusat dari prosesi Jumat Agung. Di armida ini juga Yesus diturunkan dari Salib dan diletakkan pada pangkuan Bunda Maria. Di sini akhir dari sengsara Yesus, seluruh umat dihantar Yesus masuk ke dalam Gereja Reinha Rosari Larantuka.
ada yang kelelahan dalam prosesi

Yang saya kagum dari acara ini, hampir semua peziarah mengikuti dengan tertib arahan dari para petugas. Sepanjang jalan yang dilalui, rumah - rumah di pinggir jalan mengeluarkan benda - benda suci seperti patung dan gambar Tuhan Yesus dan bunda Maria, rosario dan alkitab ditata rapih di atas meja yang dihias lampu dan cahaya lilin. Banayak umat sedang berdoa di Kapel- kapel kecil di yang ada di halaman ruma. Kapel - kapel ini bermandikan cahaya lampu dan lilin.

Suasana malam itu sungguh sangat sakral. Langit sangat cerah malam ini, Bulan bersinar terang dan milyaran kerlip bintang mengiringi prosesi lilin malam ini. Tuhan sungguh besar dan kami larut dalam prosesi suci ini yang berlangsung kira kira 5 jam dan berakhir sampai pukul 1.00 dini hari.. Badan terasa cape tapi tidak peduli karena rasa bahagia dan syukur  bisa mengikuti prosesi Semana Santa tahun ini. 

Sabtu Suci dab Minggu Paskah

Esok harinya, dalam perayaan Sabtu Suci, semua patung diarak kembali ke rumahnya masing – masing. Sesuai tradisi, ketika Patung Tuan Ma dan Tuan Ana  telah dikembalikan ke rumah mereka, maka semua patung sudah harus berada di kediaman masing – masing kecuali patung Tuan Menino yang diarak di laut dan  masih berada di Selat Gonzalu. Malamnya akan diadakan misa malam paskah di Katedral maupun gereja – gereja yang ada.  Esok harinya, di Minggu Paskah diadakan misa untuk merayakan kebangkitan Yesus Kristus.

Hari sabtu ini kami acara kami cukup santai, hanya menunggu untuk misa Malam Paskah di gereja Katedral nanti malam. Jadi hari ini kami hanya jalan jalan keliling kota Larantuka, foto - foto dan menikmati alam Larantuka. Kami juga sempat mengunjungi Museum Mgr. Gabriel Manik SVD seorang Uskup yang berjasa bagi perkembangan Katolik di Flores.
foto bersama Susterdi Depan Gua Maria Museum

Malam hari kami mengikuti Misa Malam Paskah dengan rasa damai dan penuh syukur, bergabung dengan ratusan umat lokal dan yang datang dari berbagai penjuru tanah air.
Tampak muka Museum Mgr. Gabriel Manek SVD

Hari Minggu Paskah kami harus berpisah dan kembali pulang ke kota kami. Karena jadwal pesawat kami sore hari, siang harinya Saya masih sempat menikmati indahnya pantai Larantuka, berenang sepuas hati...
Bertemu pak Ignatius Jonan

Selamat tinggal kota Larantuka ynng menyimpan sejuta kenangan bersama sahabat yang baik, jutaan peziarah yang penuh syukur dan hasrat yang masih ada untuk bisa kembali ke Flores suatu saat nanti..



Ciisss



Seru sendiri wkwkw
berkunjung ke rumah sahabat Meli yang ramah