Senin, Juni 25, 2018

Roma dan Vatican City (1)

Menyusuri Jejak Keagungan Masa Silam

By: Benediktus Beben

Hari Selasa tanggal 6 Juni 2017, kami bangun pagi pukul 4.30 waktu Brussels. Jadwal hari ini, kami akan terbang ke Roma dengan maskapai Ryan Air FR7010 pada pukul 10.10 pagi dari Brussels Airport Belgium. 

Pesawat yang kami tumpangi mendarat di Rome Fiumicino pada pukul 12.25. 
Suasana airport sangat ramai dan kami pun bergegas naik shuttle bis menuju Stasiun kereta api Termini karena kami menginap di hotel yang lokasinya tidak jauh dari sana. 

Jika anda berkunjung ke Roma, saya sarankan untuk cari hotel di sekitar Termini karena ada di pusat kota dan mudah menuju ke tujuan manapun di Eropa dengan naik kereta api. Banyak hotel bertebaran di sekitar Termini...

Sesampainya di depan Stasiun, kami langsung berjalan menyusuri trotoar sambil mencari lokasi 'Hotel Termini' tempat kami menginap. Sekitar 30 menit berjalan, akhirnya ketemu juga hotel kami yang berlokasi di seberang Stasiun.

Hotel yang kami tuju kecil saja berada di lantai atas deretan bangunan kuno, bersatu dengan hotel lainnya. Buat kami, ini pengalaman yang unik, kami pencet bell yang ada tulisan Termini hotel lalu ada suara seseorang untuk konfirmasi dan terbukalah pintunya dengan otomatis.. dari situ kami naik lift kuno dan sampailah di lobby hotel.. unik juga. 

Kamar kami kecil saja tetapi bersih dan rapi. Dari jendela kamar, kami bisa melihat kesibukan sepanjang trotoar dengan beragam aktifitasnya. Tidak lama di kamar, kami bergegas turun menemui saudara kami Pst. Didi dan Pst Postinus yang telah berbaik hati menemui kami hanya untuk mengantarkan tiket Audiensi Bapa Paus esok hari.

Sebelum berangkat ke Eropa, saya sudah contact dengan Pst. Didi untuk minta tolong ambilkan tiket audiensi ini supaya kami tidak terburu buru untuk antri tiket.

Kedua saudara kami sudah menunggu di luar dan biar nyaman, kami duduk di meja resto di sebelah hotel sambil ngopi sore hari serta ngobrol segala macam cerita. Senangnya ketemu mereka, sehingga kami merasa dimudahkan selama perjalanan ke Vatican dan Roma.

Setelah ngopi dan ngobrol, kami diajak  Pst. Postinus untuk jalan - jalan dan mampir ke biaranya sekalian bertemu saudara yang lainnya Pst. Rosa. Pst Didi tidak ikut serta karena masih mempersiapkan ujian study nya. 

Kami bertiga berjalan santai menyusuri kota Roma yang penuh bangunan kuno nan eksotis. Mata kami jelalatan menikmati pemandangan yang semuanya mengagumkan.

Kami singgah sejenak di landmark kota Roma: Colosseum. Kata orang, Liburan ke Roma dijamin tidak akan lengkap tanpa bertandang ke Colosseum. Obyek wisata megah yang penuh histori dibaliknya ini memang tidak boleh sampai dilewatkan begitu saja.

Peninggalan sejarah ini memang tidak akan pernah sepi pengunjung karena orang dari seluruh dunia tampaknya penasaran dengan arena gladiator yang termasuk di dalam karya paling besar pada zaman kerajaan Romawi.

Berada di pusat kota Roma, Colosseum ini bisa ditemukan di sisi timur Roman Forum yang dikenal sebagai sebuah spot alun-alun dengan reruntuhan gedung-gedung kuno.

Colosseum atau Colosseo yang tersisa sekarang adalah reruntuhan dari amfiteater dan arena gladiator. Nama Colosseum berasal dari seorang tokoh bernama Colossus.

Tokoh tersebutlah yang dijadikan pengganti Nero atau raja yang ada di Romawi. 
Konon, arena ini adalah tempat di mana pertarungan antara binatang dan manusia dipertunjukkan, tapi juga berfungsi sebagai tempat eksekusi para tahanan. 

Sesampainya di kawasan Colosseum ini, terdapat 2 bangunan di dalamnya yang bisa dijumpai wisatawan, yakni bangunan Colosseum itu sendiri dan bangunan yang tampak seperti pintu gerbang yang sebenarnya masih menjadi bagian dari area gladiator ini.

Sore itu hari sangat cerah, kami mengabadikannya dengan berfoto dan mengagumi kemegahan mahakarya kuno ini. Jalan di sore yang cerah sambil mendengarkan secuil sejarah Roma, mengagumi bangunan - bangunan di sekitar Colloseum, membuat pikiran saya terlontar ke abad silam. Ingat akan cerita di film kolosal 'Gladiator'...

Tanpa terasa, perjalanan kami berakhir di Kapel Biara tempat tinggal Pst. Rosa dan Pst Postinus. Kami dibawa ke kapel untuk ikut berdoa dan berkenalan dengan Pastor lainnya. Dari kapel yang indah ini, kami berjalan ke biara pasturan, duduk sambil ngobrol di taman biara yang asri serta disuguhi minuman serta bermacam makanan nikmat. Hari menjelang malam tetapi tampak seperti sore hari. Sebelum pulang ke hotel, Pst. Rosa mengajak kami berjalan berkunjung ke beberapa tempat romantis di kota Roma. 

Keluar dari biara OSC, kami berjalan menyusuri sebuah lapangan luas yang sedikit tidak terawat. Tak disangka lapangan ini punya sejarah masa lampau yang sangat terkenal dimana pada jaman dahulu diadakan balapan kereta kuda. Mungkin anda pernah melihat film Ben Hur.

Di lapangan yang bernama Circus Maximus inilah balapan kuda itu berlangsung. Circus Maximus nasibnya tidak seperti Colosseum yang masih kebanjiran turis. Sirkuit balap kuno ini sekarang hanya menjalani hari-hari tenang menjadi taman bagi warga Roma menikmati senja.

Langkah selanjutnya membawa kami singgah ke sebuah taman. Pst. Rosa menyebutnya Taman Jeruk, entahlah lupa nama tamannya tapi di sini banyak pohon jeruk berbuah ranum.. warnanya cantik dan pingin hati memetiknya.. tetapi rasanya tidak enak katanya dan tidak bisa dimakan..

Tapi yang menarik bukanlah jeruk ini.. dari balik pepohonan, ada dinding pembatas tebing, dan dari sini,...  hooop mata seolah lepas melihat pemandangan yang indah dari atas bukit ..

Dari kejauhan tampak kubah Basilica St. Petrus Vatican dengan keagungannya serta kota Roma yang begitu megah. OMG  kekaguman sudah memenuhi pikiran kami.. 

Berjalan naik ke atas lapangan, dari kejauhan masih tampak pemandangan kota Roma yang indah sampai mata kami tak ingin lepas memandangnya. Kaki terus melangkah sampai ke halaman sebuah biara. Di sini ada satu pintu tertutup dan kita sedikit antri untuk 'ngintip' dari lubang yang ada di pintu ini. Karena penasaran, kamipun ikutlah antri dan tercengang melihat apa yang tersaji di balik pintu ini...woww amazing..

Hari sudah mulai gelap, Bulan purnama bersinar penuh di cakrawala. kami terus berjalan menyusuri jalanan beraspal kasar dan naik turun mengikuti kontur jalanan yang terasa sangat kuno karena bangunan di sekitar kami berasal dari masa silam..

Rasa haus membawa kami mereguk air dari kran air yang ada di pinggir jalan... segaarnya.. kaki kembali melangkah.. dan sampailah di atas bukit melihat sebuah reruntuhan lain dari masa lampau..Roman Forum.

Bangunan ini  sekarang tinggal tersisa puing - puing tetapi masih berdiri kokoh bermandikan cahaya bulan yang romantis. 

Kaki kami terus melangkah, menyususri jejak - jejak abad silam. Di ujung blok ini, kami naik ke atas dan sedikit menyusuri jalan sampai di kompleks Capitolini.

Terdapat lapangan luas Piazza del Campidoglio yang di tengahnya terdapat patung berkuda Raja Marcus Aurelius dan di ujung Piazza terdapat tangga turun (sebenarnya tangga naik jika kita datang dari bawah) yang disebut Cordonata.

Berfoto di tangga Cardonata di bawah sinar bulan purnama merupakan moment yang sangat luar biasa..

Dari tangga Cardonata, kami terus jalan ke bawah melewati jalanan yang masih ramai.. ngintip sebuah patung yang sangat terkenal bernama 'The Mouth of truth' atau mulut kejujuran dan terus berjalan sampai berpisah dengan Pst Rosa yang baik hati.. Kami berhenti di halte bis untuk kembali ke hotel dan pst Rosa kembali ke biara.. Terima kasih banyak Pst. Rosa sudah mengantar kami menyusuri jejak jejak kuno.. Sungguh perjalanan yang sangat mengesankan.



Custom Search

Ideas

backpackers

games